RSS

Ukuran untuk Menilai Keimanan, Kekufuran, dan Kesesatan Orang Lain (3)

29 Jun

6. Kedudukan Makhluk

Berkenaan dengan Nabi Muhammad Saw, kita meyakininya sebagai manusia biasa. Oleh karena itu, bisa saja beliau terkena apa pun yang biasa mengenal manusia lainnya, seperti sifat-sifat kemanusiaan dan berbagai penyakit, yang tidak mengurangi kredibilitasnya sebagai Nabi dan tidak mengubahnya. Benar apa yang dikatakan seorang ahli akidah: “Boleh saja mereka —para Nabi— terkena sifat yang lazim menimpa manusia biasa yang tidak mengurangi (keredibilitas)-nya, seperti sakit yang ringan”.

Menurut keyakinan yang benar, Nabi Muhammad Saw adalah seorang hamba Allah Swt yang tidak mempunyai kekuasaan —bagi dirinya— untuk menimpakan mudarat, memberi manfaat, mematikan, atau menghidupkan, juga tidak membangkitkan kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah Swt. Dalam kaitannya dengan problematika ini, Allah Swt berfirman, “Katakanlah, hai Muhammad, Aku tidak kuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) kuasa menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah, Dan jika aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sehanyak-hanyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Al-A’raf [7]: 188)

Sesungguhnya Nabi Muhammad Saw telah memenuhi risalah, menyampaikan amanah, menasihati umat, melepaskan kebingungan dan kegundahan umat, serta berjihad di jalan Allah dengan penuh kesungguhan sampai titik darah penghabisan. Setelah itu, beliau pindah ke Haribaan Allah Swt dengan penuh kesenangan dan keridaan. Allah Swt menegaskan, “Sesungguhnya engkaupasti mati dan sesungguhnya merekapun akan mati” (Q.S. Al-Zumar [39]: 30). Pada surat lain disebutkan pula: “Kami tidak menjadikan hidup abadi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jika kamu mati apakah mereka akan kekal?” (Q.S. Al-Anbiya’ [21): 34)

Nabi Muhammad Saw sendiri menyatakan dengan tegas bahwa ia sangat bangga dan senang karena dijadikan Allah sebagai hamba-Nya. Sifat ‘ubudiyyah, sebagai hamba Allah, itulah yang cocok dan benar bagi junjungan kita yang diagungkan Allah Swt itu. Dengan tegas, beliau bersabda, “Innama ana ‘abd – Sesungguhnya aku hanyalah seorang abid, hamba Allah Swt.” Memang begitulah Allah Swt menyifati Nabi Muhammad sebagai hamba-Nya, sebagaimana diflrmankan-Nya, “Mahasuci Zat yang telah memperjalankan hamba-Nya” (Q.S. Al-Isra’ [17]: 1). Masih banyak ayat Al-Qur’an yang senada. Ada satu hal yang sangat istimewa bagi junjungan kita, Nabi Muhammad Saw. Meskipun begitu tingginya sanjungan dan pujian Allah Swt terhadapnya, beliau adalah manusia biasa seperti umumnya manusia. Meskipun demikian, dari sisi kualitas pribadi, beliau jelas jauh berbeda dengan umumnya manusia, bahkan jika dibanding dengan para Nabi sekalipun. Tidak ada seorang manusia pun yang menandingi kemuliaannya. Tidak ada pula yang serupa dengannya dari segi keistimewaannya. Beliau sendiri pernah mengaku terus terang —mengenai keistimewaannya— yang diterimanya dari karunia Allah Swt. Beliau bersabda,
3

Sesungguhnya aku tidak seperti perilaku (karakter) kamu. Aku tidur di sisi Tuhanku sambil diberi makan dan minum.”

Dengan demikian, jelaslah bahwa mengakui Rasulullah, Nabi Muhammad Saw, sebagai manusia biasa itu wajib disertai dengan pengakuan terhadap berbagai keistimewaan dan kekhususannya, bahwa Rasulullah tidak bisa disamakan dengan (kebanyakan) manusia lainnya. Demikian pula sikap kita terhadap Nabi-Nabi dan rasul-rasul lainnya. Dengan cara pandang seperti itu, kita memandang para Nabi dan rasul itu sesuai dengan maqam atau kedudukannya, yakni sebagai Nabi dan rasul utusan Allah Swt.

Jika kita menilai para Nabi dan rasul hanya dari sisi kemanusiaannya, tanpa mengaitkannya dengan ciri-ciri khasnya sebagai Nabi dan rasul, maka kita telah terjerumus ke dalam tradisi dan sikap orang-orang jahiliah, orang-orang tak beradab, yang menyamaratakan para Nabi dan rasul dengan manusia lainnya. Sebagai contoh, penilaian kaum Nabi Nuh a.s. mengenai pribadi beliau a.s. sebagaimana dihikayatkan Allah dalam Al-Qur’an: “Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya, ‘Kami tidak melihat kamu kecuali (sebagai) manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikutimu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki suatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu. adalah orang-orang yang dusta’.” (Q.S. Hud [11]: 27). Contoh lainnya adalah apa yang dikatakan kaum Nabi Musa dan Nabi Harun a.s. sebagaimana dihikayatkan Allah Swt dalam Al-Qur’an: “Mereka berkata: ‘Apakah kamu (pantas) beriman kepada kedua manusia seperti kita juga, padahal kaum mereka (Bani Israil) adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada kita.” (Q.S. Al-Mu’minun [23]: 27)

Demikian pula yang dikatakan kaum Tsamud kepada Nabi mereka, yaitu Nabi Saleh a.s., sebagaimana dihikayatkan Allah Swt kepada mereka dalam Al-Qur’an Al-Karim: “Tiadalah kamu kecuali (sebagai) manusia seperti kami. Maka datangkanlah suatu ayat (tanda kenabianmu) jika memang kamu termasuk yang benar.” (Q.S. Al-Syu’ara[26]: 154)

Hal yang sama pernah juga dilakukan oleh kaum Nabi Syu’ayb a.s. Mereka menuduh beliau sebagai orang yang terkena sihir, manusia biasa, bahkan sebagai manusia pendusta [lihat Q.S. Al-Syu’ara [26]: 186). Demikian pula yang dikatakan orang-orang musyrik, “yang menyekutukan Allah Swt” terhadap Nabi Muhammad Saw. Mereka hanya meyakini Nabi Muhammad Saw sebagai manusia biasa, suka makan dan minum bahkan biasa berjalan- jalan di pasar, dan sifat-sifat manusiawi lainnya. Hal itu sebagaimana dihikayatkan Allah Swt dalam kitab-Nya: “Dan mereka berkata, ‘Mengapa rasul ini memakan makanan dan berjalan-jalan di pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat, agar malaikat itu memberi peringatan hersama-sama dengan dia.” (Q.S. Al-Furqan [25]: 7)

Rasulullah Saw sendiri telah menyatakan —melalui sabdanya—bahwa Allah Swt telah memberinya sifat-sifat mulia dan menguatkan kenabiannya dengan berbagai mukjizat dan keistimewaan yang membedakannya dari manusia lain. Di antara yang disabdakan Nabi sendiri mengenai pribadinya adalah seperti yang disebutkan dalam salah satu hadis shahih berikut:
4

Kedua mataku tidur tetapi hatiku tidak tidur: Sesungguhnya aku dapat melihat kamu dari belakang punggungku sebagaimana aku melihatmu. dari depanku“.

Beliau juga bersabda:

5

Aku diberi kunci-kunci perbendaharaan bumi“.

Meskipun, secara fisik, telah wafat, tetapi beliau masih hidup dengan kehidupan barzakhiyyah —di alam barzakh— secara sempurna. Beliau dapat mendengar perkataan (orang yang masih hidup di dunia) dan mendengar salam mereka serta menjawabnya. Setiap shalawat yang diucapkan pun didengarnya. Bahkan, segala amal perbuatan umatnya juga diperlihatkan kepadanya. la merasa senang dengan amal saleh orang-orang baik, dan selalu memintakan ampunan bagi umatnya yang suka melakukan dosa. Sesungguhnya Allah Swt mengharamkan bumi menghancurkan jasad (para) Nabi a.s. Jadi, jasad Nabi Muhammad Saw itu terpelihara dari berbagai faktor perusak atau penghancur yang dimiliki oleh bumi.

Diriwayatkan dari Aus bin Aus r.a.:
6

Rasulullah Saw bersabda, “Di antara harimu yang paling mulia adalah hari Jumat. Pada hari itulah (Nabi) Adam dlciptakan, dan pada hari itu pula ia diwqfatkan. Pada hari Jumat pula terjadi nafkhah, ditiupnya sangkakala, dan pada hari itu juga terjadi sha’qah, petir dahsyat atau kiamat. Maka perbanyak-lah membaca shalawat kepadaku pada hari tersebut. Sebab shalawat kalian itu akan diperlihatkan kepadaku.” Mereka. para sahabat, bertanya: “Ya Rasul, bagaimana mungkin shalawat kami diperlihatkan kepadamu padahal engkau telah hancur?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas bumi menghancurkan jasad para Nabi (a.s.).” (H.R. Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban dalam Shahih-nya, Imam Hakim juga menshahihkannya)

Berkenaan dengan masalah tersebut, Imam Suyuthi menulis risalah khusus yang dinamainya Anba’ Al-Adzkiya’ bi-Hayat Al-Anbiya’, Pemberitaan Orang-orang Cerdas mengenai Perikehidupan Para Nabi”.

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud r.a., dari Rasulullah Saw yang bersabda:
7

 

Hidupku sangat baik bagi kamu sekalian. Kalian memberitahukan (dariku) dan diberitahukan (dariku) kepada kalian. Maka jika aku telah meninggal, wafatku (pun) sangat baik bagimu, Amal perbuatanmu diperlihatkan kepadaku. Jika aku melihat kebaikan, aku memuji Allah; dan jika aku mengetahui perbuatan jelek yang kalian lakukan, aku memohon ampunan bagi kamu sekalian.” (Al- Haytsami mengatakan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan rizal-nya shahih).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah Saw bersabda:
8

Tidak ada seorangpun yang mengucapkan salam kepadaku, kecuali Allah mengembalikan kepadaku ruhku sehingga aku (dapat) menjawab salamnya. (H.R. Abu Dawud dan Imam Ahmad). Menurut sebagian ulama, maksud kalimat radda ‘alayya ruhi adalah bahwa Allah mengembalikan kepadaku kemampuan untuk berbicara.

Diriwayatkan pula dari ‘Ammar bin Yasar r.a. la mengatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda:
9

Sesungguhnya Allah Swt mewakilkan —pada kuburanku—seorang malaikat yang kepadanya diberikan nama-nama makhluk. Maka tidak ada seorang pun yang membaca shalawat padaku sampai hari kiamat kecuali ia memberitahukan kepadaku nama orang tersebut beserta nama ayahnya “Ini Si Polan bin Polan telah membaca shalawat kepadamu”.

Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan Abu Al-Syaikh bin Hibban dengan kata-kata:
10

Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah Yang Mahamulia dan Mahatinggi mempunyai malaikat yang kepadanya diberikan nama-nama makhluk. Malaikat tersebut berdiri di atas kuburanku jika aku telah mati. Maka tidak ada seorang pun yang membaca shalawat kepadaku, kecuali malaikat itu berkata, Ya Muhammad, Polan bin Polan membaca shalawat kepadamu”. Beliau bersabda, ‘Maka Tuhan Yang Mahamulia dan Mahatinggi memberi kepada orang tersebut bagi setiap kali shalawat sepuluh (kebaikan)‘.” (H.R. Imam Thabrani dalam Al-Kabir yang seperti itu)

Hadis-hadis seperti itu masih banyak dan akan dikemukakan pada bahasan lain dari artikel ini. Tetapi, para ulama biasanya mendapatkan berbagai kesimpulan walaupun melalui satu hadis.

Berdasarkan hadis tersebut, jelaslah bahwa meskipun telah wafat secara fisik, tetapi kemuliaan, keutamaan, kedudukan, dan maqam Rasulullah Saw yang tinggi di sisi Tuhannya itu tetap langgeng bagi orang beriman yang tidak mempunyai keraguan. Oleh karena itu, bertawasul dengan perantaraan kemuliaannya kepada Allah itu sesungguhnya kembali kepada keyakinan akan hal-hal tersebut dan keyakinan bahwa ia dicintai dan dimuliakan oleh Allah, juga berpulang kepada keyakinan akan kedudukan Nabi Muhammad sebagai Nabi dan rasul utusan Allah. Sikap seperti itu, atau tawasul yang demikian itu, bukanlah suatu penyembahan kepadanya. Sebab, setinggi apa pun derajat Nabi, ia adalah seorang makhluk ciptaan Allah Swt. Sebagai makhluk, ia tidak berkuasa memberi manfaat dan tidak akan mampu menolak mudarat kecuali jika Allah mengizinkannya. Dalam konteks ini, Allah Swt berfirman, “Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa seperti kamu yang diwahyukan kepadaku, bahwa sesungguhnya Tuhan-mu adalah Tuhan Yang Esa’.” (Q.S. Al-Kahfl [18]: 110)

7. Beberapa Hal yang Menjadi Hak Khalik dan Hak Makhluk

Ada beberapa hal yang menjadi hak Khalik dan hak makhluk yang, jika dipahami secara benar dan proporsional, sebetulnya tidak bertentangan dengan ke-Mahasuci-an Sang Khalik, Allah Swt. Mereka yang tidak dapat memahaminya secara proporsional dan komprehensif, tentu akan menyangka bahwa penisbatan hal-hal tersebut kepada makhluk merupakan perbuatan syirik.

Di antara hal-hal yang menjadi hak Khalik, yakni Allah, dan dapat juga menjadi hak makhluk —dengan karakteristik yang jauh berbeda di antara keduanya, dan dengan izin-Nya— adalah masalah keistimewaan kenabian yaitu berbagal keistimewaan yang terjadi pada diri Nabi Muhammad Saw. Banyak orang yang sempit pandangannya dan tidak mampu memahami masalah secara benar dan proporsional —yaitu mereka yang hanya meng-gunakan tolok ukur yang biasa digunakan oleh manusia— menganggap bahwa mengakui hal-hal luar biasa bagi Nabi Muhammad Saw merupakan perbuatan syirik, bahwa menyifati Nabi dengan sifat-sifat luar biasa itu sama seperti menyifati Allah Swt. Keyakinan seperti itu jelas suatu kebodohan. Sebab, Allah Swt mempunyai hak untuk memberi apa saja kepada siapa saja tanpa ada yang menentukan atau memaksa-Nya. Apa yang diberikan-Nya merupakan karunia bagi siapa saja yang Dia kehendaki untuk dimuliakan, diangkat kedudukannya, dan ditampakkan kelebihannya terhadap yang lain. Kebijaksanaan-Nya sama sekali bukan merupakan pencabutan hak-hak Allah sebagai Rabb, Pengurus alam, juga tidak mengurangi sifat-sifat-Nya sebagai Tuhan yang disembah.

Hak-hak Allah sebagai Tuhan yang mengurus alam dan sifat-sifat-Nya sebagai Tuhan yang disembah tetap terpelihara sesuai dengan Maqam-Nya. Jika ada makhluk yang mempunyai sifat-sifat istimewa, maka sifat-sifat itu hanya sebatas keistimewaan manusiawi yang didapat dari karunia Allah, dengan izin dan kehendak-Nya, bukan dengan kekuatan makhluk dan pengurusannya, juga bukan karena perintahnya. Sebab, makhluk itu lemah dan tidak berkuasa memberi manfaat bagi dirinya, dan tidak berkuasa pula menolak bahaya dari dirinya sendiri. Makhluk tidak mempunyai kekuasaan untuk menciptakan hidup dan menolak kematian sekalipun bagi dirinya sendiri. Banyak hal istimewa yang nampak sebagai hak Allah Swt, tetapi Dia berkenan memberikannya kepada Nabi-Nya, Nabi Muhammad Saw dan Nabi atau rasul lainnya. Ketika itu terjadi, maka ia —Nabi atau rasul—bagai-manapun tidak mengangkat derajatnya sampai ke derajat atau maqam Tuhan, atau menjadi sekutu-Nya.

Di antara keistimewaan-keistimewaan tersebut adalah syafa’at. Syafa’at, menurut hakikatnya, hanya milik Allah Swt, sebagaimana ditegaskan-Nya: “Katakanlah: ‘Hanya milik Allah-lah syafa’at itu semuanya” (Q.S. Al-Zumar [39]: 44). Tetapi, syafa’at juga menjadi hak —untuk memberikannya— Nabi Muhammad Saw dan yang lainnya dengan izin Allah Swt. Dalam hadis Rasulullah Saw disebutkan, “Aku diberi syafa’at.” Dalam hadis lain disebut-kan, “Aku adalah syafi’ (pemberi syafaat) pertama, dan musyfa’ (yang diberi hak syafa’at) pertama kali pula”.

Keistimewaan lainnya adalah ilmu gaib. Menurut asalnya, mengetahui yang gaib hanya milik Allah Swt, sebagaimana difirmankan-Nya: “Katakanlah, Tidak ada yang mengetahui yang gaib —di langit dan di bumi— selain Allah Swt’. “Tetapi, harus diakui bahwa Allah Swt juga mengajari Nabi-Nya tentang yang gaib tersebut. Allah Swt berfirman: “(Allah itu) Yang Mengetahui yang gaib. Maka Dia tidak menampakkan kegaiban-Nya kepada seorang pun kecuali kepada rasul yang diridai-Nya”.

Keistimewaan lainnya —yang menjadi hak Khalik dan makhluk— adalah (memberi) hidayah atau memberi petunjuk. Menurut aslinya, memberi hidayah adalah hak khusus bagi Allah Swt, sebagaimana difirmankan-Nya: “Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang engkau sukai, tetapi Allah-lah yang memberi hidayah —menunjuki— siapa saja yang dikehendaki-Nya”. Tetapi dalam ayat lain kita temukan bahwa Nabi Muhammad Saw diberi hak untuk memberikan hidayah atau menunjuki manusia ke jalan yang lurus. Allah Swt berfirman: “Dan sesungguhnya kamu sungguh (dapat) menunjukkan ke jalan yang lurus”. (Q.S. Al-Syura [42]: 73)

Kata hidayah yang dimuat pada ayat pertama —yang menjadi hak Allah Swt— tidak sama dengan muatan hidayah yang disebutkan dalam ayat kedua —yang menjadi hak Nabi Muhammad Saw untuk memberikannya. Yang demikian itu hanya dapat dipahami oleh orang-orang mukmin yang intelek yang dapat mengenal perbedaan antara Khalik dan makhluk. Jika tidak demikian, mestinya dikatakan: “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar dapat memberi hidayah, dengan cara memberi petunjuk [irsyad)”; atau dikatakan: “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar dapat memberi hidayah yang bukan seperti hidayah yang Kami (Allah) berikan”. Tetapi ungkapan seperti itu ternyata tidak terjadi. Yang terjadi adalah penyebutan kata hidayah secara mutlak, tanpa keterangan apa-apa, tanpa syarat dan kayyid atau suatu ikatan. Orang yang bertauhid, di antara kita kaum mukminin yang menjadi sasaran ayat Al-Qur’an, akan dapat memahami makna-makna yang dikandung berbagai kata Al-Qur’an, serta mengetahui pula perbedaan kandungan atau muatannya, baik yang dinisbatkan kepada Allah —Sang Khalik— maupun yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad Saw sebagai makhluk-Nya.

Mirip seperti hak memberi hidayah adalah penyifatan Rasulullah Saw dengan sifat-sifat yang —menurut hakikatnya— menjadi sifat bagi Allah Swt, seperti menyifatinya dengan sifat ra’fah [lemah-lembul/santun) dan rahmah (penyayang), sebagaimana dalam firmannya: “Dan adalah ia (Rasulullah Saw) sangat penyantun dan penyayang kepada orang-orang mukmin”. (Q.S. Al-taubah [9]: 128)

Allah Swt juga menyifati Diri-Nya dengan kedua sifat tersebut dalam berbagai ayat. Satu hal yang pasti diketahui dan disadari oleh orang yang bertauhid adalah bahwa apa yang menjadi sifat Nabi Muhammad Saw —seperti penyantun dan penyayang— tidak akan sama dengan apa yang menjadi sifat Allah Swt sebagai Khalik. Ketika menyifati Nabi-Nya dengan kedua sifat tersebut dan sifat-sifat mulia lainnya, Allah Swt menyebutkannya secara mutlak, tanpa syarat dan kayyid atau tanpa keterangan. Karena, yang menjadi sasaran firman-Nya adalah manusia mukmin yang berjiwa tauhid. Mereka pasti dapat membedakan apa yang menjadi sifat makhluk dan apa yang menjadi sifat Khalik. Jika tidak karena pertimbangan seperti itu, maka ungkapan katanya —ketika Allah menyifati Nabi-Nya— akan berbunyi: “(Nabi Muhammad itu) ra’uf bi-ra’fatin ghayri ra’fatina wa rahim bi rahmatin ghayri rahmatina, (Nabi Muhammad itu) menaruh kasihan dengan belas kasihan yang tidak seperti belas kasihan Kami, dan penyayang dengan rasa sayang yang tidak seperti rasa sayang Kami”. Atau, mungkin dikatakan: “(Nabi Muhammad itu) menaruh belas kasihan dengan rasa belas kasihan khusus dan penyayang dengan rasa sayang yang khusus”. Atau mungkin dikatakan: “Ia sangat belas kasihan —dengan rasa belas kasihan manusiawi— dan sangat penyayang —dengan rasa sayang manusiawi.” Tetapi yang terjadi tidak seperti itu. Di dalam firman-Nya, justru disebutkan secara mutlak bahwa Nabi Muhammad Saw adalah ra’uf, sangat belas kasihan —kepada orang-orang mukmin— dan rahim sangat penyayang”. (Q:S. 9:128)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 29, 2007 in Aqidah & Ahlaq, Fiqih & Ushul Fiqih

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: