RSS

Ukuran untuk Menilai Keimanan, Kekufuran, dan Kesesatan Orang Lain (1)

06 Jun

Ukuran untuk Menilai Keimanan, Kekufuran, dan Kesesatan Orang Lain

(dari Kitab Al-Mafahim Sayyid Al-Maliki Al-Hassani)

 

1. Jangan Sembarangan Mengkafirkan

 

BANYAK orang yang salah —semoga Allah Swt memperbaiki dan menunjuki mereka jalan yang benar— dalam memahami sebab-sebab yang mengakibatkan kemurtadan dan kekafiran. Mereka tampak begitu mudah mengkafirkan atau menganggap kafir saudaranya sesama Muslim hanya karena beberapa hal yang tidak sejalan dengan pendapatnya. Kami memandang mereka yang mempunyai kebiasaan seperti itu dengan baik sangka [husnuzhzhan]. Mereka sebenarnya mempunyai niat yang sangat baik. Paling tidak, mereka bermaksud mengupayakan kemurnian ajaran Islam dari perbuatan syirik, dan memperbaiki kesalahan-kesalahan lainnya melalui ‘amar ma’ruf dan nahyi munkar. Namun, mereka tampaknya tidak menyadari bahwa pelaksanaan amar ma ‘ruf dan nahyi munkar itu sama sekali tidak dapat dilepaskan dari sikap bijaksana. Dan jika ada yang perlu diperdebatkan pun, harus melalui diskusi yang paling baik dengan motivasi mencari kebenaran, bukan untuk mencari kemenangan.

Hal itu diisyaratkan Allah Swt dalam Al-Qur’an Al-Karim “Ajaklah manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmat (ilmu dan kebijaksanaan), dengan nasihat yang bagus, dan debatlah mereka dengan cara yang lebih baik; sesungguhnya Tuhanmu, Dia lebih mengetahui siapa yang telah sesat dari jalan-Nya, dan Dia lebih mengetahui siapa yang menuruti jalan yang benar.” (Q .S. Al-Nahl [16]: 125). Cara yang bijaksana Itu sangat mudah diterima dan sangat memudahkan untuk mencapai tujuan kita, selain tidak akan menjerumuskan kita ke jurang perpecahan dan pertengkaran.

Jika seorang Muslim atau Muslimat mau mendirikan salat, melaksanakan yang difardukan oleh Allah Swt, menjauhi segala yang di-haramkannya, bahkan menyebarluaskan dakwah Islam, rajin memakmurkan mesjid, giat meramaikan pendidikan dan kebudayaan (syiar Islam), tetapi kita melihatnya melakukan sesuatu yang menurut kita salah, tetapi menurutnya benar —artinya, dia tidak sejalan dengan pendapat kita— dan para ulama pun belum sepakat sejak dahulu sampai sekarang, lalu kita mengecapnya “kafir”, maka sebenarnya kita sendiri yang telah melakukan perbuatan yang sangat berbahaya di tengah-tengah umat Islam; suatu perbuatan yang dilarang keras oleh Allah Swt dan Rasul-Nya. Maka kita harus segera memperhatikan kode etik berdakwah atau mengajak orang ke jalan yang diridai oleh Allah Swt.

Al-‘Allamah Imam Sayyid Ahmad Manshur Haddad mengatakan, “Sesungguhnya telah ditetapkan adanya ijmak (kesepakatan ulama) mengenai larangan mengkafirkan orang yang suka (beribadah) menghadap kiblat, kecuali jika dia mengingkari Al-Shani (Sang Pencipta, Allah Swt), atau melakukan perbuatan syirik dengan terang-terangan, atau mengingkari kenabian Nabi Muhammad Saw, atau mengingkari sesuatu yang pasti benarnya dan mudah dipahami dalam ajaran Islam, atau mengingkari suatu masalah atau hadis mutawatir (yang pasti keshahihannya), atau tidak mengakui sesuatu yang telah disepakati para ulama.”

Dalam ajaran Islam, masalah yang dapat diketahui secara pasti (kebenarannya) seperti masalah tauhid (mengakui ke-Mahaesa-an Allah Swt), masalah kenabian, telah ditutupnya risalah dengan diutusnya Nabi Muhammad Saw, kiamat, hisab/perhitungan, pembalasan di hari kiamat [al-jaza), surga dan neraka.

Jika seseorang mengingkari hal-hal seperti itu, ia dapat dinilai sebagai orang kaflr. Setiap Muslim tidak boleh berhalangan untuk mengetahui hal-hal pokok seperti itu, kecuali bagi orang-orang yang baru masuk Islam. Orang yang baru masuk Islam boleh —untuk sementara— berhalangan; untuk selanjutnya dia harus mempelajarinya juga, dan tidak boleh banyak alasan untuk tidak mengetahui dan mempercayai atau meyakininya.

Adapun hadis mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah rawi yang tidak mungkin melakukan kebohongan, (diterima) dari sejumlah orang yang seperti mereka, baik dari segi isnad yaitu rangkaian sejumlah orang yang meriwayatkannya —seperti hadis: “Siapa saja yang berbohong atas-Ku, hendaklah menyiapkan tempat duduknya di dalam neraka— maupun dari segi thabaqat atau tingkatannya, seperti mutawatirnya Al-Qur’an Al-Karim karena Al-Qur’an itu mutawatir, baik di Barat maupun di Timur, baik dalam hal mempelajari, membaca, maupun mempelajarinya, dan diterima sejak dahulu sampai sekarang dari sekelompok yang banyak, dari kelompok yang banyak pula, dan dari thabaqat-thabaqat lainnya sehingga tidak lagi memerlukan isnad.

Kadang-kadang yang mutawatir itu dalam bentuk perbuatan yang secara turun-temurun, sejak masa hidup Nabi Muhammad Saw sampai sekarang, diamalkan dan dipraktikkan serta tidak ada orang yang meng-ingkarinya (khususnya dari kalangan para ulama). Bisa juga mutawatir dari segi ilmu (tawatur ‘ilm/diketahui bersama), seperti kemutawatirannya segala mukjizat Nabi Muhammad Saw. Meskipun sebagiannya ada yang diriwayat-kan secara ahad (individual), ada yang shahih, hasan, dan ada yang dha’if, tetapi dapat dinilai mutawatir dengan ilmu pengetahuan setiap insan Muslim.

Jadi, jika hal-hal yang telah disebutkan di atas diingkari oleh seseorang —atau hanya salah satunya saja— maka orang itu boleh dinilai kaflr atau murtad. Sedangkan terhadap orang-orang yang tidak mengingkari salah satu dari hal-hal pokok tersebut, siapa pun tidak boleh menilainya sebagai orang kafir. Dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw menegaskan:
11

Jika seseorang berkata kepada saudaranya, “Hai Kafir”, maka kekafiran akan kembali (menimpa) kepada salah seorang di antara keduanya. (H.R. Imam Bukhari dari Abu Hurairah r.a.)

Sebetulnya, menilai kafir atau mukmin itu hanyalah hak orang yang memang —dengan sinar Ilahi dan cahaya syariat Islam— mengetahui sisi (substansi) perbuatan yang menimbulkan kekafiran, juga mengetahui secara pasti batas yang jelas antara keimanan dan kekafiran ditinjau dari syariat Islam yang mulia dan sempurna.

Jadi, tidak boleh sembarang orang memasuki medan seperti ini untuk menuduh kafir terhadap saudaranya yang Muslim hanya didasarkan pada sesuatu yang tidak pasti (waham) dan prasangka (zhan), tanpa menggunakan ukuran yang pasti dan meyakinkan, tanpa ilmu pengetahuan yang jelas dan ukuran yang konkret. Jika tidak hati-hati dan banyak sembarang orang memasuki medan ini, maka dapat diduga kuat, tak ada seorang Muslim pun yang selamat dari tikamannya; mereka pasti akan dicap “kafir”, terutama ketika tidak sejalan dengan pikiran dan pendapat atau —mungkin— mazhabnya.

Demikian pula, tidak boleh siapa pun mengkafirkan orang lain hanya karena melihatnya melakukan kemaksiatan (banyak atau sedikit), padahal dia masih mempunyai keimanan dan mengikrarkan dua kalimat syahadat. Dalam hubungan ini. Rasulullah Saw —dalam hadis yang diterima Anas bin Malik— bersabda:
1

Tiga hal yang merupakan inti (asal) keimanan: Berhenti (dari mengkafirkan) dari orang yang mengucapkan laa ilaaha illaLlah; tidak mengkafirkan orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat tersebut karena dia berbuat dosa. Tidak mengeluarkannya dari (kelompok) Islam hanya karena perbuatan [maksiat) . —dan jihad pun tetap berlaku sejak aku diutus menjadi Nabi.. sampai umatku yang paling akhir (yang) memerangi Dajjal, jihad tidak akan dibatalkan/dihapus karena kezaliman orang yang zalim ataupun karena keadilan orang yang adil. Dan (yang ketiga) keimanan kepada qadar. (H.R. Abu Dawud r.a)

Imam Haramain berkata: “Jika dikatakan kepada kita: ‘Pisahkan —secara rinci— ungkapan atau perilaku yang mengandung kekafiran dan yang tidak begitu, kami pasti akan menjawab: ‘Ini suatu keinginan yang bukan pada tempatnya karena (hak) mengkafirkan orang Iain termasuk yang sangat jauh jangkauannya dan sangat dalam wawasannya, yang harus dikaji dari asal-usul (pokok-pokok) tauhid. Siapa saja yang tidak mengetahui sesuatu sampai pada hakikat(pokok)nya, tidak mungkin mengetahui cara membukti-kan data kekafiran seseorang secara pasti berdasarkan data dan dalil.”

Oleh karena itu, kami menyarankan supaya setiap Muslim berhati-hati untuk mengecap orang lain dengan cap “Kafir”, terlebih dalam masalah-masalah di luar apa yang telah disebutkan dan dijelaskan di atas, karena pekerjaan sepeti itu mengandung bahaya yang besar. Dan —sebetulnya— hanya Allah-Iah yang dapat menunjukkan seseorang ke jalan yang lurus, dan hanya kepada-Nya-lah kita semua akan dikembalikan. Wallahu a’lam (hanya Allah yang lebih mengetahui yang paling benar).

Bersambung (Insya Alloh)….

 

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 6, 2007 in Aqidah & Ahlaq, Ulumul Qur'an & Hadits

 

3 responses to “Ukuran untuk Menilai Keimanan, Kekufuran, dan Kesesatan Orang Lain (1)

  1. The_Mazrury

    April 8, 2009 at 6:40 am

    Assalamualaikum…
    Terimakasih telah membukakan fikiran saya…
    semoga Allah SWt memberikan pertolongan dari segala sikap dan tindakan yang saya laksanakan..
    amin..
    mhon doa dan motivasinya…

     
  2. Permana

    Februari 22, 2011 at 6:52 am

    A’udzubillaah Bismillaah wal hamdulillaah
    .
    Jadwal Majlis Ta’lim Kitab Al-Mafahim Sayyid Al-Maliki Al-Hassani di Masjid Agung Sumedang pada Senin malam, 21 Februari 2011 diisi oleh acara Maulid Nabi Muhammad saw wa Aalihi.
    .
    Insya Allah SWT pengajian mulai lagi bulan depan, silakan hadir…

    فصلى الله على سيدنا و نبي الله محمد رسول الله وعلى آله وآصحابه وسلم على المرسلين

     
  3. jaka

    Februari 27, 2011 at 12:04 am

    keimanan seseorang tidak dapat diukur oleh lahiriah saja
    juga bathin an memang sulit untuk di ketahui kecuali oleh orang yang saleh

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: