RSS

Bahtsul Masail & Konsultasi

05 Jun

dialog

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Halaman ini disediakan untuk menampung permasalahan-permasalahan seputar Agama Islam, juga merupakan forum konsultasi Agama. Silahkan bagi siapa saja yang mau berpartisipasi dalam pengembangan khasanah keilmuan Islamiyah bisa bergabung.

Terima kasih

Wass. Wr. Wb.

Admin Asy-Syifa wal-Mahmuudiyyah

 
13 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 5, 2007 in Bahtsul Masail & Konsultasi

 

13 responses to “Bahtsul Masail & Konsultasi

  1. asysyifa

    Juni 5, 2007 at 2:31 am

    Kami sediakan tempat untuk berpartisipasi ….

    Wass. Wr. Wb.
    Admin Asy-Syifa wal Mahmuudiyyah

     
  2. hamba Allah

    Juni 29, 2007 at 5:53 pm

    Assalaamu’alaikum Warahmatullah wabarakaatuh.
    Saya mau bertanya ustaz: Sudah beberapa bulan ini, orang tua yang sangat saya cintai, telah menghadapNya. Tradisi di kampung saya, setiap ada orang yang meninggal, harus di adakan tahlil. Bagaimana hukum tahlil ini ustaz ? mohon penjelasannya.
    Wassalaamu’alaikum Warahmatullah Wabarakaatuh.

     
  3. asysyifa

    Juli 23, 2007 at 2:37 am

    Wa alaikum slm Wr. Wb.

    Jawaban pertanyaan saudara bisa dilihat di kategori Aqidah & Ahlak atau https://asysyifawalmahmuudiyyah.wordpress.com/2007/07/06/90/#more-90

     
  4. afef chasbi F

    Oktober 2, 2007 at 3:36 pm

    saya ingin menanyakan kepada majelis Bahtsul Masail mengenai sejarah, lalu metodologi dalam pengambilan hukum dan dasar hukum yang dipakek dan perbedaan ijtihad yang dilakukan oleh muhamadiah dan MUI

     
  5. Eko AL bukhori

    November 2, 2007 at 4:46 pm

    Asalamu’alaikum ? sy ingn bertanya apakah hukum khotib yg menyampaikan amanatnya dg bahasa arab, terus bagaimana dg khotib yg tidak memakai bhs arab ?? terimakasih

     
  6. asysyifa

    November 4, 2007 at 4:36 am

    (فرع) هل يشترط كون الخطبة بالعربية فيه طريقان (اصحهما) وبه قطع الجمهور يشترط لانه ذكر مفروض فشرط فيه العربية كالتشهد وتكبيرة الاحرام مع قوله صلى الله عليه وسلم ” صلوا كما رأيتموني اصلي ” وكان يخطب بالعربية (والثاني) فيه وجهان حكاهما جماعة منهم المتولي (احدهما) هذا (والثانى) مستحب ولا يشترط لان المقصود الوعظ وهو حاصل بكل اللغات قال اصحابنا فإذا قلنا بالاشتراط فلم يكن فيهم من يحسن العربية جاز ان يخطب بلسانه مدة التعلم وكذا إن تعلم واحد منهم التكبير بالعربية فان مضى زمن التعلم ولم يتعلم أحد منهم عصوا بذلك ويصلون الظهر أربعا ولا تنعقد لهم جمعة
    (المجموع)

    وهل يشترط كون الخطبة كلها بالعربية وجهان الصحيح اشتراطه فإن لم يكن فيهم من يحسن العربية خطب بغيرها ويجب أن يتعلم كل واحد منهم الخطبة العربية كالعاجز عن التكبير بالعربية فإن مضت مدة إمكان التعلم ولم يتعلموا عصوا كلهم ولا جمعة لهم.
    فرع
    (روضة الطالبين وعمدة المفتين)

    (وشرط كونهما عربيتين)، والمراد أركانهما لاتباع السلف والخلف.
    فإن لم يكن ثم من يحسن العربية ولم يمكن تعلمها خطب بغيرها أو أمكن تعلمها وجب على الجميع على سبيل فرض الكفاية فيكفي في تعلمها واحد فإن لم يفعل عصوا ولا جمعة لهم بل يصلون الظهر.
    وأجاب القاضي عن سؤال ما فائدة الخطبة بالعربية إذا لم يعرفها القوم بأن فائدتها العلم بالوعظ من حيث الجملة،
    (فتح الوهاب)

    ومحل اشتراط العربية إن كان في القوم عربي وإلا كفى كونها بالعجمية إلا في الآية فلو لم يحسن شيئا من القرآن أتى ببدل الآية من ذكر أو دعاء فإن عجز وقف بقدرها شيخنا قوله: (دون ما عداها) يفيد أن كون ما عدا الاركان من توابعها بغير العربية لا يكون مانعا من الموالاة ويجب وفاقا لم ر أن محله إذا لم يطل الفصل بغير العربي وإلا ضر ومنع الموالاة كالسكوت بين الاركان إذا طال سم على المنهج والقياس عدم الضرر مطلقا ويفرق بينه وبين السكوت بأن في السكوت إعراضا عن الخطبة بالكلية بخلاف غير العربي فإن فيه وعظا في الجملة ع ش قوله: (نعم إن لم يكن إلخ) أي ولم تمض المدة الآتية فتأمله سم قوله: (من يحسنها) المراد إحسان لفظها وإن لم يفهم معناها كما نبه عليه سم ويأتي آنفا في الشرح وعن النهاية والمغني قوله: (واحد بلسانهم) عبارة النهاية والمغني واحد بلغته وإن لم يعرفها القوم فإن لم يحسن أحد منهم الترجمة فلا جمعة لهم لانتفاء شرطها اه قال ع ش قوله م ر وإن لم يعرفها إلخ قضيته أن الخطيب لو أحسن لغتين غير عربيتين كرومية وفارسية مثلا وباقي القوم يحسن إحداهما فقط أن للخطيب أن يخطب باللغة التي لا يحسنونها وفيه نظر بل الظاهر أن الخطبة لا تجزي حينئذ إلا باللغة التي يحسنها وقوله م ر فإن لم يحسن أحد منهم الترجمة أي عن شئ من أركان الخطبة كما تقدم عن سم في قوله حتى لو لم يحسن الخطبة سقطت كالجمعة ع ش قوله: (بلسانهم) أي ما عدا الآية فيأتي ما تقدم ولا يترجم عنها سم وكردي علي بأفضل قوله: (وإن أمكن تعلمها إلخ) أي ولو بالسفر إلى فوق مسافة القصر كما يعلم مما تقدم في تكبيرة الاحرام ع ش قوله: (وجب إلخ) أي على سبيل فرض الكفاية.
    (حواشي الشرواني)

     
  7. masemus

    November 22, 2008 at 12:37 am

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Bertanya tentang WAKAF :: wakaf ahli.
    Terima kasih sebelumnya, sekiranya ada yang mau membantu untuk menjawab/menjelaskan tentang permasalahan wakaf seperti yang saya kisahkan berikut ini :

    * * * * *
    Alkisah : ada 2 (dua) anak perempuan yatim piatu, Melati dan Sekar keduanya kakak beradik. Mereka diasuh oleh Abah Amir dan Umi (orang tua angkat mereka), yang terhitung masih kerabat yaitu saudara misan (sepupu) dari kakek mereka.
    Abah Amir dan Umi tidak memiliki anak/keturunan. Mereka berdua menganggap Melati dan Sekar sebagai cucu mereka sendiri dan merawatnya dengan penuh kasih sayang. Karena rasa sayang-nya, Abah Amir memberi wakaf kepada mereka berdua, dan menuliskannya dalam sebuah surat (wasiat) : “Rumah A, … dan rumah B, … Dua buah rumah tersebut sudah jadi wakaf kepada Melati dan Sekar, kalau meninggal salah satunya, jatuh kepada anak-anaknya sampai turun-turunnya”.
    Dalam surat (wasiat) tersebut juga diceritakan bahwa wakaf tersebut dibuat saat kedua anak angkatnya belum menikah, sehingga Abah Amir yang memberi wakaf juga sekaligus sebagai wakil yang menerima wakafnya, disitu beliau juga berpesan : “Saya pesan jangan sampai disulayani” (disulayani = dilanggar/tidak dilaksanakan).

    Selang beberapa waktu setelah menikahkan kedua anak angkat mereka, Umi meninggal terlebih dahulu, kemudian Abah Amir. Puluhan tahun telah berlalu, sekarang Melati dan suaminya telah meniggal, begitu pula Sekar dan suaminya juga sudah meninggal. Melati memiliki 3 (tiga) orang anak, dan Sekar memiliki 9 (sembilan) orang anak.

    Keterangan : Abah Amir juga mewakafkan sebagian hartanya yang lain untuk anak yatim dan pendidikan, juga memberikan hibah pada kerabatnya. Tetapi seluruh pemberian-pemberian yang diberikan oleh Abah Amir tidak melebihi 1/3 (sepertiga) dari jumlah harta yang beliau miliki.
    * * * * *

    Pertanyaan :
    Bagaimanakah cara pembagian atas manfaat dari harta wakaf tersebut untuk anak-anak Melati dan anak-anak Sekar?
    a. Apakah dibagi sesuai dengan awal pemberian? Yaitu dibagi 2 bagian, 1 bagian jatuh ke anak-anak Melati, dan 1 bagian jatuh ke anak-anak Sekar.
    b. Ataukah dibagi 12 (duabelas)?, yaitu sejumlah dari anak-anak Melati dan Sekar.
    Mohon penjelasannya.

    * * * * *
    Pendapat saya tentang masalah yang ada dalam kisah tersebut…
    “Ini hanyalah pendapat saya yang awam lagi buta terhadap hukum wakaf, mungkin pendapat saya ini salah, semoga Allah mengampuni kesalahan dan kekhilafanku dan memberikan hidayah-Nya untuk kita semua, Amin”.

    1. Hal utama yang perlu disepakati sebelum melangkah ke pokok permasalahan, yaitu menentukan apakah harta tersebut merupakan HIBAH, HADIAH atau WAKAF?
    a. Isi surat (wasiat) : “Rumah A dan rumah B. Dua buah rumah tersebut sudah jadi wakaf kepada Melati dan Sekar, kalau meninggal salah satunya, jatuh kepada anak-anaknya sampai turun-turunnya”. “Saya pesan jangan sampai disulayani”. (disulayani = dilanggar/tidak dilaksanakan).
    • Dilihat dari segi persyaratan wakaf, hal tersebut sudah memenuhi, yaitu :
    • Pemberi wakaf : dewasa dan mampu (kematangan jiwa dan sosial ekonomi).
    • Benda yang diwakafkan : merupakan hak milik pribadi, dan bernilai.
    • Tujuan wakaf : sudah jelas disebutkan siapa Penerima wakafnya.
    • Akad wakaf : sudah jelas dengan adanya isi surat (wasiat) tersebut.

    b. Pendapat saya, harta tersebut merupakan WAKAF, sesuai dengan isi (kalimat) yang ada didalam surat (wasiat) tersebut dan juga sudah memenuhi unsur persyaratan wakaf dan tidak bertentangan dengannya.

    2. Wakaf tersebut masuk kedalam klasifikasi Wakaf Khusus (Al-Waqf Al-Ahliy atau Al-Dzurriy).
    a. Macam/klasifikasi Wakaf
    • Wakaf Khoiri : wakaf yang sejak semula untuk kepentingan umum, seperti hadist Umar bin Khotob.
    Hadits dari Abdullah ibn Umar, katanya: Umar (Bapakku) mendapatkan sebidang tanah di Khaibar, maka beliau mendatangi Rasulullah, dan berkata: “Saya mendapatkan sebidang tanah di Khaibar yang aku tidak hanya ingin mendapatkan hartanya semata, maka apa yang akan engkau perintahkan kepadaku dengan tanah itu? Jawab rasulullah: Jika engkau mau, pertahankan pokok harta tanah itu, dan bershadaqahlah dari hasilnya.” Maka, Umar pun bershadaqah dengan hasil sebidang tanah itu, beliau tidak menjual atau menghibahkan tanah tersebut, ataupun mewariskannya. Shadaqahnya, beliau salurkan kepada orang fakir-miskin, kerabat, memerdekakan budak, fii sabilillah, tamu, ibnu sabil, dan beliau tidak melarang orang lain untuk mengambil dan memakannya asal sebatas kewajaran, atau memberi makan kawannya asalkan bukan untuk memperkaya diri. (Lihat: HR. Bukhari, bab al-syuruth fii al-waqf, hal. 2737, Muslim dalam Al-Washiyah, bab al-waqf, hal. 1632).

    • Wakaf Ahli : wakaf yang ditujukan pada orang-orang tertentu seseorang / lebih baik keluarga / bukan keluarga wakif.

    b. Pendapat saya, wakaf tersebut masuk kedalam klasifikasi Wakaf Khusus (Al-Waqf Al-Ahliy atau Al-Dzurriy), karena ditujukan pada orang-orang tertentu yaitu si Penerima wakaf (Melati dan Sekar, kalau meninggal salah satunya, jatuh ke anak-anaknya sampai turun-turunnya).

    3. Pokok permasalahan, Bagaimanakah cara pembagian atas manfaat dari harta wakaf tersebut untuk anak-anak Melati dan anak-anak Sekar?
    a. Pendapat pertama : dibagi 2 (dua) bagian yang sama, sesuai awal/asal Penerima wakaf, yaitu 1 (satu) bagian untuk anak-anak Melati dan 1 (satu) bagian untuk anak-anak Sekar.
    • Hal ini didasarkan pada isi surat (wasiat) tersebut : “…kalau meninggal salah satunya, jatuh ke anak-anaknya sampai ke turun-turunnya”.
    • Kalimat tersebut secara implisit menggambarkan bahwa jika Melati meninggal maka bagiannya jatuh ke anak-anak Melati, atau sebaliknya, jika Sekar meninggal maka bagiannya jatuh ke anak-anak Sekar.

    b. Pendapat kedua : dibagi sesuai dengan jumlah penerima wakaf dalam tiap generasi. Dalam hal ini dibagi 12 (duabelas), yaitu jumlah anak-anak Melati (3 orang) dan Sekar (9 orang).
    • Hal ini didasarkan pada bahwa wakaf tidak boleh diwaris.
    • Status hukum wakaf untuk cucu sama dengan anak.

    c. Pendapat saya, lebih memilih pendapat yang pertama.
    • Pengertian # harta wakaf tidak boleh diwaris, ditekankan pada : harta yang sudah diwakafkan tidak boleh diwariskan kepada ahli waris Pewakaf karena akan merubah maksud dari wakaf itu sendiri yaitu menahan hartanya untuk bisa dimanfaatkan di segala bidang kemaslahatan dengan tetap melanggengkan harta tersebut sebagai taqarrub kepada Allah ta’alaa.
    • Pengertian # status hukum wakaf untuk cucu sama dengan anak, ditekankan pada : apabila ada orang tua yang memberikan wakaf kepada anaknya (wakaf ahli, untuk keturunan pewakaf), maka secara implisit wakaf tersebut juga ditujukan untuk cucu-cucunya, walaupun didalam aqadnya dia hanya menyebutkan bahwa harta tersebut diwakafkan kepada anaknya. Atau dengan kata lain ‘tidak menghapus nasab’.
    • Berbeda dengan masalah dalam kisah ini, sama-sama wakaf ahli, tapi ditujukan bukan untuk keturunan pewakaf. Dan akan lain pula permasalahannya jika dalam aqad (wasiat) wakaf tersebut hanya disebut/ditujukan kepada Melati dan Sekar, maka kasus hukumnya akan menjadi berbeda, yaitu : jika salah satunya meninggal, anak-anaknya tidak mewarisi/tidak mendapat bagian. Dan jika keduanya meninggal, maka harta wakaf tersebut berubah menjadi wakaf khoiri (wakaf untuk umum).
    • Tetapi dalam kisah ini, disebutkan isi surat (wasiat) tersebut yang didalamnya terkandung aqad/syarat dari Pewakaf : “…kalau meninggal salah satunya, jatuh ke anak-anaknya sampai ke turun-turunnya”, disini sudah sangat jelas dikatakan bahwa kalau salah satunya meninggal, maka anak-anaknya lah yang mewarisi bagian dari orang tuanya, dan hal ini berlaku terus seperti itu sampai keturun-turunnya.
    • Pada dasarnya, penerima wakaf wajib mengamalkan dan mentaati persyaratan dari pewakaf, jika tidak bertentangan dengan syar’i. Hal ini berdasarkan firman Allah: Wahai orang-orang yang beriman, tunaikanlah aqad-aqad kalian. (Q.S. Al-Maidah 1). Dan melaksanakan aqad, termasuk di dalamnya melaksanakan pokok dan semua kriteria yang ada padanya. Hal ini juga sesuai dengan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: orang-orang muslimin itu adalah sesuai dengan persyaratan mereka. (HR. Bukhari).

    —————————
    Berikut ini ‘mungkin’ tidak ada hubungannya dengan permasalahan dalam kisah tersebut, tapi patut untuk dijadikan bahan renungan :
    • Warisan barang sedekah : Seorang wanita bertanya kepada Rasulullah SAW. ia berkata: “Aku bersedekah kepada ibuku berupa seorang budak wanita. Kemudian ibuku meninggal dunia dengan meninggalkan warisan berupa budak wanita itu. Rasulullah SAW menjawab: “Tetaplah pahalamu, dan budak itu dikembalikan kepadamu sebagai harta warisan. (HR. Abu Daud).
    —————————

    Sekali lagi saya katakan : “Ini hanyalah pendapat saya yang awam lagi buta terhadap hukum wakaf, mungkin pendapat saya ini salah, semoga Allah mengampuni kesalahan dan kekhilafanku dan memberikan hidayah-Nya untuk kita semua, Amin”.

    Tanggapan/jawaban sangat saya harapkan, agar saya tidak terjebak kesesatan dalam masalah ini. Terima kasih.

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Masemus.

     
  8. Dwi

    Desember 3, 2008 at 10:44 am

    ALHAMDULLILAH,, MUGA2 TIASA DIKEMBANGKEN.. HATUR NUHUN

     
  9. The-Mazrury

    April 7, 2009 at 4:51 am

    Asslamualaikum…
    Pa kyai, saya mau bertanya mngenai hukum berpacaran dalam islam menurut pandangan Pakyai?
    jazakallahu khoiron katsiraa

     
  10. Rizal

    Mei 19, 2009 at 8:15 am

    Assalamualaikum wr. wb.
    Pa Kyai saya mau bertanya tentang tafsir-tafsir dari beberapa ayat suci Al-Quran yang belum saya fahami.

    1. Q.S. Qaaf
    Apakah yang dimaksud “Kami itu lebih dekat dengan
    urat lehernya”? Kalau berdasarkan faham syekh siti
    jenar, Allah adalah diri kita.
    2. Q.S. An-Naas
    Apakah setan itu merupakan dzat (makhluk) atau
    sifat yang bisa melekat pada diri manusia dan jin?
    3. Q.S. Saba`: 13
    Yang dimaksud “piring-piring sebesar kolam” yang
    dibuat para jin untuk Nabi Sulaiman itu apa?
    Apa mungkin yang dimaksud adalah UFO? Bagaimana
    pandangan Islam terhadap kehidupan asing tersebut
    (alien, UFO)?

    Mohon jawabannya..
    Jazakallahu khoiron katsira

    Wassalamualaikum wr. wb.

     
  11. muhammad mawardi

    Juli 12, 2009 at 5:44 pm

    assalamu’alaikum… bapa ? ieu sareng mawardi anu kapungkur kangtos di pasihan nami ku bapa janten muhammad mawardi. abdi bade tumaros :
    1. dupi iraha diturunkeunnana syahadat.
    2. saha jalmi anu pertama nampi syahadat.
    3. kumaha asal usulna lafadz syahadat.
    punten bapa nyhunkeun walerannana.
    haturnuhun. wassalam

     
  12. mickpack

    Juli 12, 2011 at 7:06 pm

    pak ustadz mau tanya nih.
    1.apakah banul jan dan dinosaurus itu sama..
    2.tentang UFO,ALIEAN tuh gimana.?
    3.kalau manusia keturunan nabi ADAM tp kalau jin dari kturunan sapa y?
    Dmikian prtnyaan kami sblumny matur syukron.

     
    • Asy-Syifa

      Juli 14, 2011 at 9:54 am

      Mohon maaf km blum tahu secara detail masalah tsb. Mungkin bs ditanyakan k yg lbh faham.

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: