RSS

As-Sayyid Muhammad ibn Alawi Al-Maliki (5)

30 Mei

As-Sayyid Muhammad ibn Alawi Al-Maliki: Pembina Calon Ulama’ Indonesia (5)

Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…

Mengenang As-Sayyid Muhammad `Alawi al-Maliki al-Hasani
‘Allamah daerah al-Hijaz

As-Sayyid Muhammad ibn Alawi Al-Maliki (5)

Sebuah kenangan pribadi oleh Shafiq Morton

Saat berita itu muncul bahwa Nabi Muhammad (s) telah wafat karena demam di Madinah, timbul ketidakpercayaan di antara para Sahabat. Sayyidina ‘Umar yang ketika itu hendak berangkat menuju Syria, mula-mula menolak untuk mempercayai berita bahwa Nabi (s) telah wafat.

Sungguh, rasa duka dapat mengambil beragam bentuk – penyangkalan, amarah, keputusasaan, dan tentu saja, kerusakan. Malaikat Maut adalah sesosok makhluk yang tak dapat diduga. Keterkejutan diri kita akan mendadaknya maut, suatu hal yang paling pasti setelah peristiwa kelahiran, adalah suatu bagian kemanusiaan diri kita.

Mungkin, karena insting pertama kita adalah untuk survive dan yang kedua adalah kenyamanan dari dunia ini. Kita memiliki pekerjaan, kita memiliki rumah, kita memiliki anak-anak, kita memiliki suatu kehidupan dan kita ingin hidup itu terus berlanjut. Singkat kata, kita tak ingin meninggalkan semua itu!

Namun pada Jumat, 14 Ramadan (1425 H, red.), sang daun telah gugur dari pohon Sayyid Muhammad al-Maliki dan Sang Malaikat Maut telah datang untuk mengambil satu di antara ulama terbesar di era modern ini.

Sayyid Muhammad adalah Grand-Shaikh saya, dan ketika berita wafatnya mulai menyeruak ke Cape Town di Jumat pagi, saya pun tak mempercayai apa yang baru saya dengar. Tak mungkin!

Saat kebenaran itu muncul di hadapan saya, saya pun amat terpukul. Kehilangan seorang Syaikh, mata air pengetahuan Anda dan penjaga jiwa Anda, adalah seperti kehilangan orang tua Anda.

Saya hanyalah seorang murid yang paling hina, namun ketika saya menulis ini, hati saya dipenuhi dengan citra yang lebih besar daripada kehidupan, citra Sayyid Muhammad… pemurah, menyejukkan dan bijaksana – sungguh suatu miniatur kopi dari kakek moyang beliau yang seorang Nabi – Sayyid Muhammad demikian baik pada diri saya walau beliau tak mengenal saya, dan demikian pemurah sekalipun di saat beliau tak mesti melakukannya bagi diri saya.

Nama-nama para Syaikh beliau di Makkah yang hebat-hebat pun melintas di hadapan mata saya, namun saya tak mampu memaksa diri saya menuliskan nama-nama itu. Merekalah otoritas (bidang agama, red.) di zaman mereka, dan mereka semua memberkati kejeniusan Sayyid Muhammad dengan totalitas barakah mereka. Dan pada gilirannya, pada barakah beliau-lah, saya ingin mengikatkan diri ini.

Judul-judul buku dan kitab karangan beliau (lebih dari seratus judul) berenang dalam alam kesadaran diri saya. Mafahim Yujibu an-Tusahhah (Konsep-konsep yang perlu diluruskan, salah satu kitab karya Sayyid Muhammad, red.) bersinar layaknya suatu kemilau mutiara. Inilah seorang manusia yang menantang rekan-rekan senegaranya, kaum Salafi-Wahhabi, dan membuktikan kesalahan doktrin-doktrin mereka dengan menggunakan sumber-sumber dalil mereka.

Untuk keberanian intelektualnya ini, Sayyid Muhammad dikucilkan oleh ‘rumah Najd’ dan dituduh sebagai “seorang yang sesat”. Beliau pun dicekal dari kedudukannya sebagai pengajar di Haram (yaitu di Masjidil Haram, Makkah, red.). Kitab-kitab karya beliau dilarang, bahkan kedudukan beliau sebagai professor di Umm ul-Qura pun dicabut. Beliau ditangkap dan passport-nya ditahan. Namun, dalam menghadapi semua hal tersebut, Sayyid Muhammad sama sekali tidak menunjukkan kepahitan dan keluh kesah.

Beliau tak pernah menggunakan akal dan intelektualitasnya dalam amarah, melainkan menyalurkannya untuk memperkuat orang lain dengan ‘ilm (pengetahuan) dan tasawwuf. Saat kaum Salafi-Wahhabi mendiskreditkan beliau, beliau pun menulis lebih banyak buku dan mendirikan Zawiyyah beliau sendiri yang menjadi “United Nations” (Perserikatan Bangsa-Bangsa) dari para ‘Ulama.

Akhirnya, protes dari dunia Muslim memaksa kaum Salafi-Wahhabi untuk menghentikan usaha mereka memeti-eskan sang ‘aliim kontemporer yang paling terkenal dalam mazhab Maliki ini. Beberapa di antara mereka bahkan mulai mendukung beliau, dan yang lain membenci beliau bahkan lebih dalam lagi.

Kedengkian mereka sebenarnya didorong oleh fakta bahwa Sayyid Muhammad al-Maliki jauh lebih unggul dari sekedar tandingan mereka. Hampir secara sendirian saja, beliau mengambil Islam Sunni dari klaim tangan-tangan Neo-Khawarij Salafi-Wahhabi dan menempatkannya kembali ke tangan mayoritas ummat ini.

Melalui berbagai karya-karyanya yang menonjol, beliau menyuntikkan kepercayaan diri yang amat dibutuhkan dalam per‘debat’an saat kaum jahil dan pseudo-tradisionalis yang mengandalkan ijtihad-pribadi mulai meracuni mainstream Islam.

Saya dapat menuliskan lebih banyak dan lebih banyak lagi tentang hal ini. Sayyid Muhammad telah mencapai banyak hal dalam 60 tahun hidupnya yang singkat bersama kita. Hidupnya tentu saja tidaklah hanya berisi peperangan intelektualnya melawan kaum Wahabi. Adalah kemampuannya untuk melihat kebaikan yang demikian menyentuh hati.

Saat waktu-waktu fajar mulai terbit, saya pun berjuang mencari kata-kata. Ingatan akan Sayyid Muhammad tetap memenuhi ruangan saya. Seakan-akan beliau tengah melihat melalui bahu saya, dengan tongkat yang terpegang di satu tangan, dan tasbih hitam di tangan yang lain, senyumannya, wajahnya yang bercahaya dibingkai oleh lilitan turban hijau.

Saya tahu diri saya egois, namun saya hanya mampu mengekspresikan kehilangan atas beliau dengan becermin tentang arti beliau bagi diri hina ini. Semata ini karena Sayyid Muhammad selalu menyirami diri saya, yang bukan siapa-siapa sama sekali ini, dengan berbagai hadiah kapan pun saya berkunjung menemui beliau.

Tentu saja, itu bukan karena favoritisme – jauh dari hal itu sama sekali – melainkan itulah Sunnah dari Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam. Bagi seseorang yang baru masuk dalam Islam seperti saya, Sayyid Muhammad demikian dalam perhatiannya sebagaimana sang Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam melakukan hal yang sama bagi mereka yang baru memeluk Din ini.

Namun, adalah karena sifat dari hadiah itu yang demikian bermakna, dan di waktu yang sama, sangat tipikal dari seseorang seperti Sayyid Muhammad.

Saya memandangi hadiah-hadiah itu dengan penuh ketakjuban. Mereka bersama-sama datang bagi diri ini untuk mensimbolisasikan sesuatu yang demikian agung, karena melalui hadiah-hadiah beliau, beliau telah memberikan pada saya suatu dunia. Beliau mestilah kini tengah tersenyum di alam barzakh saat saya menggosokkan jari-jari ini pada kebenaran! (tentang hadiah-hadiah itu, red.)

Saya teringat akan sepotong kain kiswah (kain penutup ka’bah, red.) yang tersimpan dalam secarik amplop. Saat saya pandang jahitan-jahitan hitam gelapnya, saya tersadar bahwa kain hitam ini bermakna bagaikan arah, untuk Qiblah yang harus ada dalam hati saya. Saya membuka halaman-halaman Quran wangi hadiah beliau. Inilah al-Furqan, Kriteria yang mesti saya bawa selama hidup ini.

Saya pun teringat akan jubah dan fez Maroko yang tersimpan dalam lemari, inilah pakaian-pakaian Perlindungan yang mesti saya kenakan. Di atas meja saya, “kitab hijau” berisi doa-doa karya beliau yang demikian terkenal, Syawariq ul-Anwar (Lampu-lampu yang Bersinar) adalah Sarana-sarana. Dalam laci saya, tersimpar pena emas yang beliau berikan pada diri saya, suatu alat Senjata yang jauh lebih tajam daripada sebilah pedang.

As-Sayyid Muhammad ibn Alawi Al-Maliki (5a)

Saya terkesima akan kebijaksanaannya. Sebuah e-mail tiba dari Saudi Arabia. Fakhruddin Owaisi al-Madani melukiskan janazah Sayyid Muhammad dengan detail yang mengharukan. Demikian besar proses pemakaman beliau hingga prosesi janazah tersebut memanjang dari Masjidil Haram hingga pekuburan Jannat ul-Ma’la. [Dikatakan lebih dari 300.000 orang menghadiri salat jenazah beliau.]

“Makkah menangis baginya, Arabia tengah menangisi kepergiannya… seluruh dunia Islam menangis bagi dirinya,” tulis Fakhruddin, “semoga Allah mengkaruniakan padanya (Sayyid Muhammad) Jannah tertinggi di samping kakenda tercinta beliau, Sayyidina Rasulullah sallaAllahu ‘alayhi wasallam.”

Ketika saya telan kembali air mata yang tengah berguguran ini, yang bisa saya ucapkan hanyalah “Aamiiin!”

حدثنا هارون بن اسحاق الهمداني، أخبرنا عبدة بن سليمان عن هشام بن عروة، عن أبيه، عن عبد اللّه بن عمرو بن العاص قال: قال رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم: إن اللّه لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من الناس ولكن يقبض العلم بقبض العلماء، حتى إذا لم يترك عالما اتخذ الناس رؤوسا جهالا فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا “. (رواه البخاري في كتاب العلْم و مسلْم)

Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Amr ibn al-‘As bahwa Nabi SallAllahu ‘alayhi wasallam bersabda:

“Allah tak akan mencabut ilmu dari hati para ulama, tapi Ia mencabut para ulama tersebut (mereka wafat). Tak akan ada lagi ulama tersisa untuk mengambil alih tempat mereka sehingga manusia akan mengambil orang-orang yang amat jahil sebagai pemimpinnya. Pemimpin-pemimpin jahil itu akan ditanyai masalah-masalah, dan mereka akan memberikan fatwa tanpa pengetahuan (ilmu). Mereka tersesatkan dan menyesatkan yang lainnya.” [Hadits Riwayat Bukhari dalam Kitab ul-‘ilmi dan Riwayat Muslim]

***


 
9 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 30, 2007 in Sejarah & Biografi

 

9 responses to “As-Sayyid Muhammad ibn Alawi Al-Maliki (5)

  1. nurkhalis mukhtar

    Juni 14, 2007 at 3:01 pm

    saya salah seorang pecinta allamah syekh sayyid muhammad alawy al maliki begitu banyak ilmu dan jasa beliau tarhadap tsaqafah umat islam hari ini beliau ahli bait yang tau akan hak Rasulullah.dalam membahas masalah bersikap adil jauh dari nafsu pribadi dan kelompok jazakallah ya syaikh.

     
  2. mimtulungagung

    November 9, 2007 at 4:27 am

    salam kenal dari cicit kakek sang guru besar kita ABUYA

     
  3. Cepiss

    November 30, 2007 at 12:41 am

    Telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa seorang Ulama & Guru besar yang Tawadhu…semoga ALLAH SWT memberikan tempat yang layak disisi-Nya.Amiiin Ya Rabb…

     
  4. M.H. Sadzili

    Maret 12, 2008 at 2:51 am

    Sugri Puji kagungan Alloh nu parantos maparinkeun ka urang sadaya wali-wali nu lebetna ulama-ulama na Alloh di zaman urg kiwari nu dikenal ku urg sadaya nu janten pitutur kanggo urg sadaya dina enggoning tekad ucapan lamapah sapertos aranjeuna nana nu diagungkeun ku Alloh miwah Rosul tur ku urg sadayana.Mugi Alloh maparin ka urg sadaya tiasa nyulad satengakah saparipolah tinu sagala Riwayat Hidup nu Masya Alloh teu tiasa kagambarkeun tina diri srg hate Al-Alim Al-Alamah As-Syaid Muhammad Alwy Al-Maliki Al-Hasani R.A. Kayakinan nu sampurna ka Alloh tur Rosulna udageun kanggo urg sadaya salaku umat Jungjunan

     
  5. ahmad syahid

    September 16, 2009 at 4:27 am

    Al Ulamau warotsatul Anbiyai.. ulama adalah pewaris para nabi…saya termasuk pecinta al alim al alamah as syayid muhamad alwi almaliki.. beliau adalah buyut guru saya, mudah mudahan beliau mendapat derajat yang tinggi di sisi allah amien dan semoga kita mendapatkan karomahnya

     
  6. abu adhwa

    September 18, 2009 at 2:40 am

    Sungguh merinding ketika membaca berita ini, umat Islam sangat kehilangan seorang Ulama yang menjadi panutan dunia. ilmunya yang begitu luas, akhlaknya yang begitu mulya dan wara’ amal dan karyanya yang begitu banyak. Semoga Allah memberikan berkah untuk kita semua dari setiap nasehat-nasehat yang pernah beliau sampaikan. syukron

     
  7. Al'abdul dzalil min rohmatillah

    Oktober 31, 2009 at 4:37 pm

    Abuya Assayyid Muhammad ibn Assayyid Alawi Al Maliki Al Hasani . . .

    Sungguh bsar jasa beliau trhdap kaum muslimin sedunia . .

    Bagaimana susahnya perjuangan beliau menghadapi ujian yg diberikn para ulama & pemerintah arab saudi membuat hati saya bersedih . . .

    Alhamdulillah beliau termasuk buyut guru saya . .

    Mudah2n ilmu beliau bisa manfaat bagi kita semua dan kita bisa meneruskan perjuangan beliau . .

    Mudah2n Allah mengangkat derajat beliau di sisi -Nya . .

    Beliaulah setitik cahaya ditengah hutan belantara nan gelap . .

    Beliaulah mata air nan jernih di antara padang pasir yg gersang . .

    Beliaulah permata ilmu di antara batu2 koral yg tak berharga . .

    Ya Allah ridhoilah beliau disisi Engkau ya Robb . .

    Sucikan ruh beliau & ampuni segala dosa2 beliau . . .

    Amin ya Robbal ‘alamin . .

     
  8. aman

    Juli 8, 2010 at 4:21 am

    Amien amien amien ya Rabbal’alamien

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: