Dalil Maulid

Dalil-Dalil Peringatan Maulid Nabi SAW
sayyid-al-maliki-al-hasani2.jpg
sumber: infokito.net

Sayyid Muhammad Al-Maliki
Dalil-Dalil Peringatan Maulid Nabi SAW

Yang pertama merayakan Maulid Nabi SAW adalah shahibul Maulid sendiri, yaitu Nabi SAW, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan Muslim bahwa, ketika ditanya mengapa berpuasa di hari Senin, beliau menjawab, “Itu adalah hari kelahiranku.” Ini nash yang paling nyata yang menunjukkan bahwa memperingati Maulid Nabi adalah sesuatu yang dibolehkan syara’.

Banyak dalil yang bisa kita jadikan sebagai dasar untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Pertama, peringatan Maulid Nabi SAW adalah ungkapan kegembiraan dan kesenangan dengan beliau. Bahkan orang kafir saja mendapatkan manfaat dengan kegembiraan itu (Ketika Tsuwaibah, budak perempuan Abu Lahab, paman Nabi, menyampaikan berita gembira tentang kelahiran sang Cahaya Alam Semesta itu, Abu Lahab pun memerdekakannya. Sebagai tanda suka cita. Dan karena kegembiraannya, kelak di alam baqa’ siksa atas dirinya diringankan setiap hari Senin tiba. Demikianlah rahmat Allah terhadap siapa pun yang bergembira atas kelahiran Nabi, termasuk juga terhadap orang kafir sekalipun. Maka jika kepada seorang yang kafir pun Allah merahmati, karena
kegembiraannya atas kelahiran sang Nabi, bagaimanakah kiranya anugerah Allah bagi umatnya, yang iman selalu ada di hatinya? — Red.al-Kisah)

Kedua, beliau sendiri mengagungkan hari kelahirannya dan bersyukur kepada Allah pada hari itu atas nikmat-Nya yang terbesar kepadanya.

Ketiga, gembira dengan Rasulullah SAW adalah perintah Al-Quran. Allah SWT berfirman, “Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira’.” (QS Yunus: 58).

Jadi, Allah SWT menyuruh kita untuk bergembira dengan rahmat-Nya, sedangkan Nabi SAW merupakan rahmat yang terbesar, sebagaimana tersebut dalam Al-Quran, “Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiya’: 107).

Keempat, Nabi SAW memperhatikan kaitan antara waktu dan kejadian-kejadian keagamaan yang besar yang telah lewat. Apabila datang waktu ketika peristiwa itu terjadi, itu merupakan kesempatan untuk mengingatnya dan mengagungkan harinya.

Kelima, peringatan Maulid Nabi SAW mendorong orang untuk membaca shalawat, dan shalawat itu diperintahkan oleh Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam sejahtera kepadanya.” (QS Al-Ahzab: 56).

Apa saja yang mendorong orang untuk melakukan sesuatu yang dituntut oleh syara’, berarti hal itu juga dituntut oleh syara’. Berapa banyak manfaat dan anugerah yang diperoleh dengan membacakan salam kepadanya.

Keenam, dalam peringatan Maulid disebut tentang kelahiran beliau, mukjizat-mukjizatnya, sirahnya, dan pengenalan tentang pribadi beliau. Bukankah kita diperintahkan untuk mengenalnya serta dituntut untuk meneladaninya, mengikuti perbuatannya, dan mengimani mukjizatnya. Kitab-kitab Maulid menyampaikan semuanya dengan lengkap.

Ketujuh, peringatan Maulid merupakan ungkapan membalas jasa beliau dengan menunaikan sebagian kewajiban kita kepada beliau dengan menjelaskan sifat-sifatnya yang sempurna dan akhlaqnya yang utama.

Dulu, di masa Nabi, para penyair datang kepada beliau melantunkan qashidah-qashidah yang memujinya. Nabi ridha (senang) dengan apa yang mereka lakukan dan memberikan balasan kepada mereka dengan kebaikan-kebaikan. Jika beliau ridha dengan orang yang memujinya, bagaimana beliau tidak ridha dengan orang yang mengumpulkan keterangan tentang perangai-perangai beliau yang mulia. Hal itu juga mendekatkan diri kita kepada beliau, yakni dengan manarik kecintaannya dan keridhaannya.

Kedelapan, mengenal perangai beliau, mukjizat-mukjizatnya, dan irhash-nya (kejadian-kejadian luar biasa yang Allah berikan pada diri seorang rasul sebelum diangkat menjadi rasul), menimbulkan iman yang sempurna kepadanya dan menambah kecintaan terhadapnya.

Manusia itu diciptakan menyukai hal-hal yang indah, baik fisik (tubuh) maupun akhlaq, ilmu maupun amal, keadaan maupun keyakinan. Dalam hal ini tidak ada yang lebih indah, lebih sempurna, dan lebih utama dibandingkan akhlaq dan perangai Nabi. Menambah kecintaan dan menyempurnakan iman adalah dua hal yang dituntut oleh syara’. Maka, apa saja yang memunculkannya juga merupakan tuntutan agama.

Kesembilan, mengagungkan Nabi SAW itu disyariatkan. Dan bahagia dengan hari kelahiran beliau dengan menampakkan kegembiraan, membuat jamuan, berkumpul untuk pengingat beliau, serta memuliakan orang-orang fakir, adalah tampilan pengagungan, kegembiraan, dan rasa syukur yang paling nyata.

Kesepuluh, dalam ucapan Nabi SAW tentang keutamaan hari Jum’at, disebutkan bahwa salah satu di antaranya adalah, “Pada hari itu Adam diciptakan.” Hal itu menunjukkan dimuliakan-nya waktu ketika seorang nabi dilahirkan. Maka bagaimana dengan hari dilahirkannya nabi yang paling utama dan rasul yang paling mulia?

Kesebelas, peringatan Maulid adalah perkara yang dipandang bagus oleh para ulama dan kaum muslimin di semua negeri dan telah dilakukan di semua tempat. Karena itu, ia dituntut oleh syara’, berdasarkan qaidah yang diambil dari hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud, “Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin, ia pun baik di sisi Allah; dan apa yang dipandang buruk oleh kaum muslimin, ia pun buruk di sisi Allah.”

Kedua belas, dalam peringatan Maulid tercakup berkumpulnya umat, dzikir, sedekah, dan pengagungan kepada Nabi SAW. Semua itu hal-hal yang dituntut oleh syara’ dan terpuji.

Ketiga belas, Allah SWT berfirman, “Dan semua kisah dari rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu, yang dengannya Kami teguhkan hatimu.” (QS Hud: 120). Dari ayat ini nyatalah bahwa hikmah dikisahkannya para rasul adalah untuk meneguhkan hati Nabi. Tidak diragukan lagi bahwa saat ini kita pun butuh untuk meneguhkan hati kita dengan berita-berita tentang beliau, lebih dari kebutuhan beliau akan kisah para nabi sebelumnya.

Keempat belas, tidak semua yang tidak pernah dilakukan para salaf dan tidak ada di awal Islam berarti bid’ah yang munkar dan buruk, yang haram untuk dilakukan dan wajib untuk ditentang. Melainkan apa yang “baru” itu (yang belum pernah dilakukan) harus dinilai berdasarkan dalil-dalil syara’.

Kelima belas, tidak semua bid’ah itu diharamkan. Jika haram, niscaya haramlah pengumpulan Al-Quran, yang dilakukan Abu Bakar, Umur, dan Zaid, dan penulisannya di mushaf-mushaf karena khawatir hilang dengan wafatnya para sahabat yang hafal Al-Quran. Haram pula apa yang dilakukan Umar ketika mengumpulkan orang untuk mengikuti seorang imam ketika melakukan shalat Tarawih, padahal ia mengatakan, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” Banyak lagi perbuatan baik yang sangat dibutuhkan umat akan dikatakan bid’ah yang haram apabila semua bid’ah itu diharamkan.

Keenam belas, peringatan Maulid Nabi, meskipun tidak ada di zaman Rasulullah SAW, sehingga merupakan bid’ah, adalah bid’ah hasanah (bid’ah yang baik), karena ia tercakup di dalam dalil-dalil syara’ dan kaidah-kaidah kulliyyah (yang bersifat global).

Jadi, peringatan Maulid itu bid’ah jika kita hanya memandang bentuknya, bukan perincian-perincian amalan yang terdapat di dalamnya (sebagaimana terdapat dalam dalil kedua belas), karena amalan-amalan itu juga ada di masa Nabi.

Ketujuh belas, semua yang tidak ada pada awal masa Islam dalam bentuknya tetapi perincian-perincinan amalnya ada, juga dituntut oleh syara’. Karena apa yang tersusun dari hal-hal yang berasal dari syara’, pun dituntut oleh syara’.

Kedelapan belas, Imam Asy-Syafi’i mengatakan, “Apa-apa yang baru (yang belum ada atau dilakukan di masa Nabi SAW) dan bertentangan dengan Kitabullah, sunnah, ijmak, atau sumber lain yang dijadikan pegangan, adalah bid’ah yang sesat. Adapun suatu kebaikan yang baru dan tidak bertentangan dengan yang tersebut itu, adalah terpuji.”

Kesembilan belas, setiap kebaikan yang tercakup dalam dalil-dalil syar’i dan tidak dimaksudkan untuk menyalahi syariat dan tidak pula mengandung suatu kemungkaran, itu termasuk ajaran agama.

Kedua puluh, memperingati Maulid Nabi SAW berarti menghidupkan ingatan (kenangan) tentang Rasulullah, dan itu menurut kita disyariatkan dalam Islam. Sebagaimana yang Anda lihat, sebagian besar amaliah haji pun menghidupkan ingatan tentang peristiwa-peristiwa terpuji yang telah lalu.

Kedua puluh satu, semua yang disebutkan sebelumnya tentang dibolehkannya secara syariat peringatan Maulid Nabi SAW hanyalah pada peringatan-peringatan yang tidak disertai perbuatan-perbuatan mungkar yang tercela, yang wajib ditentang.

Adapun jika peringatan Maulid mengandung hal-hal yang disertai sesuatu yang wajib diingkari, seperti bercampurnya laki-laki dan perempuan, dilakukannya perbuatan-perbuatan yang terlarang, dan banyaknya pemborosan dan perbuatan-perbuatan lain yang tak diridhai shahthul Maulid, tak diragukan lagi bahwa itu diharamkan. Tetapi keharamannya itu bukan pada peringatan Maulidnya itu sendiri, melainkan pada hal-hal yang terlarang tersebut. [infokito]

Wallahu a’lam

Wabillahi taufik wal hidayah

***Disarikan dari majalah al-Kisah

GLOSSARY:
Sayyid Prof. Dr. Muhammad ibn Sayyid ‘Alawi ibn Sayyid ‘Abbas ibn Sayyid ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki al-Hasani al-Makki al-Asy’ari asy-Syadzili lahir di Makkah pada tahun 1365 H. Ayah beliau, Sayyid Alwi bin Abbas Almaliki (kelahiran Makkah th 1328H), seorang alim ulama terkenal dan ternama di kota Makkah. Disamping aktif dalam berdawah baik di Masjidil Haram atau di kota kota lainnya yang berdekatan dengan kota Makkah seperti Thoif, Jeddah.
Tidak kurang dari 100 buku yang telah dikarangnya, semuanya beredar di seluruh dunia. Tidak sedikit dari kitab-kitab beliau yang beredar telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Prancis, Urdu, Indonesia dan lain-lain.
Beliau wafat hari jumat tanggal 15 Ramadhan 1425 H (2004 M) dan dimakamkan di pemakaman Al-Ma’la disamping makam istri Rasulullah SAW. Khadijah binti Khuailid Ra. dengan meninggalkan 6 putra, Ahmad, Abdullah, Alawi, Ali, al-Hasan dan al-Husen dan beberapa putri-putri.

Berikut ini VIDEO pengajian Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani di kediaman beliau. Dalam video ini beliau menyampaikan topik tentang hari kelahiran Rasulullah SAW.

23 Tanggapan ke “Dalil Maulid”

  1. mhartono Berkata:

    Alhamdulillah kini saya menemukan Dalil Maulid sehingga bisa menambah wawasan berpikir saya, karena ya itu tadi banyak yang mengatakan Bidah,…. walaupun demikian saya paling senang menghadiri Muludan, .. karena disana saya banyak dapat teman baru dan ceramahnya itu yang utama buat saya yang merasa masih haus ilmu agama.
    Terima kasih Asy Syifa yang telah memberikan banyak pelajaran buat diri saya baik ikut langsung dalam pengajian umum di wilayah Bandung selatan dan melalui blog internet ini, semoga Asy Syifa semakin maju bukan hanya di Bandung Sumedang tapi juga di seluruh Indonesia bahkan ke seluruh dunia , aamiin

  2. Abu Aqli Berkata:

    Allohumma Sholli ala Muhammaddin Wa Aali Muhammad

    Assalammualayka Ya Rasulullah…
    Assalammualayka Ya Aba Qosim…
    Assalammmalayka Ya Immamarohmah…
    Assalammualayka Ya NabiALLAH…

    Assalammualayka Ya Asbabun Dunya Wa Rohmatullahi Wa Barakatu…

    Rindu dan kerinduan kami hanya padamu Ya Kekasih ALLAH…
    Kami Rindu Senyummu..
    Kami Rindu Dekapan hangatmu…

    (di nukil dari Mahdah Musthofa – al HS)

  3. zainruchyat Berkata:

    masih ada yang rancu dalam hal dalil..
    tidak ada dalil yang menegaskan secara langsung di perbolehkannya maulid…

    terkesan seperti taqlid..

    padahal para sahabat dulu seperti ustman yang membukukan mushaf memiliki udzur yang syar’i yaitu banyaknya para penghafal alquran yang gugur di medan perang dan untuk mengantisipasi hilangnya hafalan alquran maka di bukukan.. alasan yang logis dan masuk akal untuk kondisi seperti itu..

    sedangkan disini jika diperhatikan hanya mengutip dari sisi globalnya saja.. padahal jika di teliti lebih jauh lagi para sahabat melakukan hal itu karna ada sebabnya (asbabunnujul) sehingga jika langkah itu tidak dilakukan maka akan terjadi kemudhorotan yang lebih besar…

    alasan dimasyarakat kita mengikuti maulid adalah bukti kecintaanya kepada Rosul.. akan tetapi pada realitanya banyak sunnah2 Beliau yang ditinggalkan..
    sebuah fenomena yang ironis..

    pantaskah kita mengaku cinta kepada Rosul akan tetapi banyak sunnah2 beliau yang kita tinggalkan!!!

    sebuah perbandingan yang tak seimbang…
    1 hari mencintainya sedangkan 355 hari lainnya kembali tdk mencintainya..

    wallahualam..

    • andriansyah Berkata:

      ente ngaji ga sih….ente sendiri yang taqlid buta
      semoga ALLAH MEMBERIKAN HIDAYAH TUK BELAJAR LAGI DAN BANYAK BERTANYA KEPADA ALIM ULAMA AGAR TIDAK TERSESAT
      afwan…lihat lah sisi kebaikan yang didapat..

  4. Ujang Berkata:

    Kami rasa dalil yg dipaparkan diatas sangat2 jelas sekali bagi orang yg hatinya lapang mau menerima kebenaran. Hanya orang2 yg di dlm hatinya ada penyakit saja yg tdk mau menerima kebenaran yg jelas….!

    Mengenai komentar anda ttng penyusunan Mushaf oleh Sayyidina Utsman RA.:
    =======
    “…padahal para sahabat dulu seperti ustman yang membukukan mushaf memiliki udzur yang syar’i yaitu banyaknya para penghafal alquran yang gugur di medan perang dan untuk mengantisipasi hilangnya hafalan alquran maka di bukukan.. alasan yang logis dan masuk akal untuk kondisi seperti itu..”
    ========

    Setau sy, pada jaman kekhalifahan yg dipimpin oleh Sholahuddin Al-Ayubi, justru beliau meniru/ittiba kpd Sayyidina Utsman RA, dikarenakan pd saat itu pasukan salib yg bgitu gencar menyerang Islam dan pasukan Islam mengalami penuruna semangat zihad. Maka Sultan Solahuddin Al-Ayubi membangkitkan semangat pasukan Islam dengan mengenalkan kepribadian RasuluLloh SAW melalui perayaan Maulid Nabi SAW. dan apa hasilnya??? Dengan Izin Alloh SWT, Pasukan Islam berhasil melawan pasukan salib….

    coba anda bayangkan jikalau pd waktu itu semangat pasukan Islam tidak bisa bangkit seperti tsb…. mugkin Islam tdk akan sampai k Saudara akibat kekalahan perang SUltan Solahuddin….dst

    Komentar Anda:
    ======
    alasan dimasyarakat kita mengikuti maulid adalah bukti kecintaanya kepada Rosul.. akan tetapi pada realitanya banyak sunnah2 Beliau yang ditinggalkan..
    sebuah fenomena yang ironis
    ======

    dimana bukti anda bahwa orang yg selalu/suka merayakan Maulid itu sangat jauh dr Sunnah Nabi SAW???? setau sy justru orang yg menyukai Maulid kebanyakan berusaha utk mengikuti Sunnah Nabi SAW. dimana letak ironis yg Anda sebutkan…

    Komentar Anda:
    ============
    pantaskah kita mengaku cinta kepada Rosul akan tetapi banyak sunnah2 beliau yang kita tinggalkan!!!

    1 hari mencintainya sedangkan 355 hari lainnya kembali tdk mencintainya..
    =================

    kami merayakan Maulid/pembacaan riwayat hidup Nabi SAW tdk 1 kali setahun, hampir setiap malam Jum’at di majelis2 ilmu, Masjid, Madrasah rumah2 di daerah kami khususnya rutin merayakan maulid/pembacaan riwayat/biografi Nabi SAW utk mempertebal kecintaan kpd Nabi SAW.

    =====
    1 hari mencintainya sedangkan 355 hari lainnya kembali tdk mencintainya..
    =====
    dengan 1 hr sj sudah jauh dr mencintai Nabi, bagaimana dengan orang yg sama-sekali tdk pernah??????

    WaLlohu a’lam

  5. al-Fatah Berkata:

    Buat yang bikin blog: SETUJU BANGEEEET!!!
    Hanya saja kita perlu menjaga diri kita sendiri, keluarga, kalau perlu jiran tetangga, teman, dll dari fitnah GAM (maaf, bukan yang di Aceh itu, tapi GAM= Gerakan Anti Maulid), sama fitnahnya wahabi dan dajjal…

  6. Asy-Syifa Berkata:

    Terima kasih atas dukungan & komentar2 dari pengunjung, kami harap komentar2 yg disampaikan bisa lebih menjaga etika “bil-lati hiya ahsan”

    Kami posting artikel diatas hanya sekedar memberikan sedikit pemahaman mengapa kami merayakan Maulid Nabi SAW supaya pihak2 yg kurang setuju dgn Maulid tdk ber-Khusnudzon cepat memfonis salah.

    Memang perayaan Maulid di zaman ahir ini banyak di-ikhtilaf-kan, antara mayoritas Ahlu Sunnah wal Jama’ah yg mendukung dan minoritas golongan “baru/Muhdatsah” yg menentang. Sedangkan hukum su-udzon tdk ada ikhtilaf akan haram-nya su-udzon.

    Mohon maaf bila ada kata2 yg kurang berkenan.
    Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.
    Admin.

  7. Andry Berkata:

    kebanyakan anggota GAM tidak paham tradisi maulid dari aspek religius, sosial, psikologis dan spiritualnya. Belum lagi adanya kegiatan perekonomian yang bisa dihidupkan dari tradisi maulid. Mereka juga tidak tuntas meneliti isi kitab-kitab maulid. Hal lain yang jadi ciri mereka adalah kebiasaan menjadikan satu atau dua perayaan maulid yang mereka lihat mengandung kemunkaran, maka digeneralisasi sebagai semua perayaan maulid memang seperti itu. Padahal para syekh yang lurus mengajarkan tradisi maulid dengan cara-cara yang sepenuhnya syar’i. Kalau ada yang mengajarkan hal2 yang tidak sesuai syar;i seperti bercampurnya laki-laki perempuan secara tidak pantas, melakukan hadrah yang berlebihan, maka seyogyanya hanya hal-hal itu saja yang diserang. bukan maulid-nya secara keseluruhan apalagi maulid sebagai ide….

  8. andriansyah Berkata:

    alhamdulillah semoga jaya terus…

  9. Asy-Syifa Berkata:

    Syukron Akhi Andriansyah. Semoga Alloh SWT selalu memberi Taufiq & Hidayah-Nya kpd kita, anak-keturunan kita, saudara2 kita, utk tetap berada dalam “jalur lurus aqidah” yg diridoi Alloh SWT wa bil khususnya kpd seluruh pengunjung Blog ini. Amiiin!

  10. sandhi Berkata:

    BAB I
    KAPANKAH RASULULLAH n DILAHIRKAN?

    Sebagian kaum muslimin senantiasa merayakan peringatan hari ulang tahun kelahiran Nabi Muhammad n atau yang dikenal dengan Maulid Nabi n . Maulid berarti tempat atau waktu dilahirkannya seseorang. Maulid juga adalah mashdar bermakna kelahiran (al-wiladah). Tempat maulid Nabi n adalah Makkah. Waktu maulid beliau n adalah 53 Sebelum Hijriah yang bertepatan dengan 571 M. Adapun tanggal dan bulannya maka para ulama berselisih dalam penentuannya, ada yang mengatakan bulan Rabi’ul Awwal, Ramadhan, atau Muharram, seperti sebagian penganut Syi’ah. Berikut di antara pendapat yang masyhur :

    a. Maulid Nabi adalah tanggal 8 Rabi‘ul Awwal

    Syaikh Nashiruddin Al-Albany t berkata, “Adapun waktu hari kelahiran beliau, telah disebutkan tentangnya dan bulannya oleh beberapa pendapat. Hal ini disebutkan oleh Ibnu Katsir t dalam kitab asal , dan semuanya mu’allaq, tanpa ada sanad yang bisa diperiksa dan diukur dengan ukuran ilmu mustholah hadits, kecuali pendapat yang mengatakan bahwa hal itu (hari kelahiran Nabi -pent.) pada tanggal 8 Rabi’ul Awwal. Karena tanggal 8 ini telah diriwayatkan oleh Imam Malik dan selainnya dengan sanad yang shahih dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im dan beliau adalah seorang tabi’in yang mulia. Dan mungkin karena inilah, pendapat ini dikuatkan oleh para pakar sejarah dan mereka berpegang padanya, dan ini yang dipastikan oleh al-Hafizh al-Kabir Muhammad bin Musa al-Khowarizmy dan juga dikuatkan oleh Abul Khoththob bin Dihyah …”. [Shahih as-Sirah an-Nabawiah hal. 13].
    Syaikh Abdullah bin Muhammad at-Tamimi t berkata,”Beliau n dilahirkan pada tanggal 8 Rabi’ul Awwal., Qila (dikatakan) , “tanggal 10”, dan qila : “tanggal 12”, pada hari Senin”. [Mukhtashor Siratur Rasul, hal. 18].

    b. Maulid Nabi adalah tanggal 9 Rabi‘ul Awwal

    Pengarang Nurul ‘Ainain fii Sirah Sayyidil Mursalin pada halaman 6 berkata, “Mahmud Basya seorang pakar ilmu Falak menguatkan bahwa hal itu (hari kelahiran Nabi) adalah pada Subuh hari Senin, tanggal 9 Rabi’ul Awwal yang bertepatan dengan tanggal 20 April tahun 571 Miladiyah dan juga bertepatan dengan tahun pertama dari peristiwa Gajah”.
    Syaikh Shofiyyur Rahman al-Mubarakfury t berkata,”Penghulu para rasul dilahirkan di lingkungan Bani Hasyim di Mekkah pada subuh hari Senin tanggal 9 bulan Rabi’ul Awwal tahun pertama dari peristiwa perang Gajah dan bertepatan dengan tanggal 20 atau 22 bulan April tahun 571 M”. Tentang wafatnya n dikatakan : “ ..kemudian tangannya miring dan beliau n akhirnya berjumpa dengan Kekasih Yang Maha Tinggi,…kejadian ini pada dhuha sedang panas-panasnya, yaitu ( wafatnya Nabi n ) Senin 12 Rabi’ul Awwal 11 H, usia beliau 63 tahun lebih empat hari…” [Ar-Rohiqul Makhtum hal. 54 , 466 ; Shahih al-Bukhari, bab Marai’dh Nabi 2 / 638-641].
    Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Humaid t berkata ketika menyebutkan tentang Abu Sa’id al-Kaukabury : “Dia adalah orang yang pertama kali merayakan maulid di negeri Maushil sebagaimana yang akan datang penjelasannya. Dia mengadakan perayaan tersebut pada malam kesembilan menurut yang dikuatkan oleh para ahli hadits (yaitu bahwa ahlul hadits menguatkan bahwa hari kelahiran beliau n pada tanggal 9) . Beliau n dilahirkan pada malam itu (ke-9) dan wafat pada 12 Rabi’ul Awal menurut kebanyakan ulama” [ar-Rasa`ilul Hisan fii Fadho`ihil Ikhwan h. 49].
    Syaikh al-Utsaimin t berkata,” … jika bulan ini (Rabi’ul Awwal) adalah bulan diutusnya Rasul n demikian juga dia adalah bulan dilahirkannya Rasul n berdasarkan pendapat yang dinyatakan oleh para pakar sejarah. Hanya saja, tidak diketahui malam keberapa beliau dilahirkan. Pendapat yang paling bagus adalah yang menyatakan beliau dilahirkan pada malam ke -9 dari bulan ini (Rabi’ul Awwal) bukan malam ke 12. Berbeda dengan pendapat yang terkenal di sisi kebanyakan kaum muslimin saat ini. Karena ini (yakni lahirnya beliau pada tanggal 12) tidaklah memiliki landasan yang benar dari sisi sejarah. Berdasarkan perhitungan para ahli falak belakangan, kelahiran beliau adalah pada hari ke 9 dari bulan ini…” [Majmu Al-Fatawa 7/357, Syaikh al-‘Utsaimin, kumpulan Fahd bin Nashir as-Sulaimany]

    c. Maulid Nabi adalah tanggal 12 Rabi‘ul Awwal

    Muhammad bin Ishaq bin Yasar berkata,” Rasulullah n dilahirkan pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal, tahun Gajah.” [Sirah Nabawiyyah 1/58 karya Ibnu Hisyam]. Akan tetapi pendapat ini dilemahkan oleh Syaikh Abdullah bin Muhammad at-Tamimi t dalam kitabnya Mukhtashar Siratur Rasul, hal. 18, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.

    Melihat pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tidak ada kepastian tentang tanggal hari kelahiran (maulid) Nabi n. Dan cukuplah hal ini menjadi tanda bukti nyata yang menunjukkan bahwa Nabi n, para sahabat g dan para ulama setelah mereka, tidaklah menaruh perhatian besar dalam masalah hari ulang tahun (maulid) Nabi n.
    Karena jika seandainya hari ulang tahun kelahiran (maulid) beliau n adalah perkara yang penting untuk dirayakan, memiliki keutamaan yang besar, dan memiliki arti yang mendalam dalam Islam, maka pasti akan ditegaskan oleh Nabi n dalam hadits-hadits beliau, sebagai konsekuensi dari kesempurnaan Islam dan semangat beliau n dalam menunjukkan kebaikan kepada ummatnya. Juga pasti akan dinukil dari para sahabat tentang tanggal kelahiran beliau n sebagai konsekuensi sikap amanah mereka dalam menyampaikan ilmu.
    Bahkan ketika Khalifah Umar bin al-Khaththab c bermusyawarah mengenai perlunya penanggalan Islam, para sahabatg hanya mengemukakan dua pilihan, yakni (1) memulai tahun Islam dari sejak diutusnya Muhammad n sebagai rasul atau (2) sejak beliau n hijrah ke Madinah. Akhirnya, pilihan Khalifah Umar c -yang disepakati para sahabat- jatuh pada yang terakhir. Khalifah Umar c beralasan, Hijrah adalah pembeda antara yang haq dan yang batil [Târîkh ath-Thabari, 2/3]. Saat itu tidak ada seorang sahabat pun yang mengusulkan tahun Islam dimulai sejak hari lahirnya Nabi n.
    Ini membuktikan bahwa para sahabat g bukanlah orang-orang yang biasa mengkultuskan Nabi Muhammad , sebagaimana orang-orang Nasrani mengkultuskan Isa o. Hal itu karena mereka tentu sangat memahami benar sabda Nabi n sendiri yang pernah menyatakan:”Janganlah kalian mengkultuskan aku sebagaimana orang-orang Nasrani mengkultuskan Isa putra Maryam, karena sesungguhnya aku hanya sekadar seorang hamba-Nya.” [HR. Bukhari dan Ahmad].
    Maka merayakan ulang tahun hari kelahiran Nabi n dan menjadikannya hari besar di dalam Islam adalah tidak memiliki landasan yang kuat. Tidak kuat dari sisi aqidah Islam dan juga tidak kuat dari sisi penanggalan kelahirannya. Bahkan jangan-jangan itu adalah hari wafatnya beliau n yang seharusnya kita berduka karenanya dan tidak selayaknya kita bergembira di bulan wafatnya Nabi n. Apalagi Rasulullah n telah mencukupkan dua hari raya bagi umat Islam yaitu : Idul Adhha dan Idul Fithri.
    Peringatan Natal dimulai tahun 325 M dipelopori Paus Liberius, jauh sebelum kedatangan Islam. Namun Nabi n dan para sahabatnyag yang hidup berdampingan dengan kaum Nasrani tidak pernah mengadopsi hari raya Natal (maulid Isa o) ini ke dalam Islam dalam bentuk perayaan maulid Nabi Muhammad n. Maka akankah kita menyalahi perintah Rasulullah n dengan menambah lagi hari raya berupa ulang tahun kelahiran beliau n yang meniru-niru tata cara ibadah kaum Nasrani dengan hari raya Natal-nya? Allahlberfirman,”Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka (Yahudi dan Nasrani) setelah datang kepadamu ilmu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zhalim.” [Al-Baqarah :145].
    Imam Muslim dalam muqaddimah Shahih Muslim (1/10) membawakan suatu riwayat yang sampai sanadnya kepada Muhammad bin Siriin, beliau berkata: “Sesungguhnya ilmu itu agama, maka lihatlah dari manakah kalian mengambil agama kalian”
    Bukankah Rasulullah b telah bersabda: مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
    (“Barang siapa yang meniru tradisi suatu kaum maka dia adalah bagian dari kaum tersebut.”) [Hadits shahih diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud] .
    (Bersambung…insya Allah)
    و صلى الله على على نبينا محمد وعلى آله و صحبه أجمعين و الحمد لله رب العالمين

     Ummu Ashhama Zeedan (Mrs. Novi)

  11. Ujang Dadang Berkata:

    Tks atas komentar “copy-paste” dr Mrs Novi. Maaf sy yakin ini adalah copy-paste karena banyak teks/karakter yg aneh seprti “Khalifah Umar c”, Nabi Muhammad , Nabi n, dll. Sedangkan Ust2 Ukhti sangat anti dengan taqlid buta, kalo copy-paste Vs Taqlid buta, kira2 sama ato beda ato parah yg mana?

    Mf… Langsung pd tanggapan. Ada beberapa “copy-paste”-an dr Mrs Novi yg perlu sy komentari, diantaranya:
    Tentang pengkultusan, coba Ukht cek arti “Kultus”? apakah yg dinamakan Kultus= mutlak “mentuhankan”. Sedangkan Hadits yg di “copy-paste” Ukt (”Janganlah kalian mengkultuskan aku sebagaimana orang-orang Nasrani mengkultuskan Isa putra Maryam, karena sesungguhnya aku hanya sekadar seorang hamba-Nya.” [HR. Bukhari dan Ahmad].) Jelas sekali yg di Larang Nabi SAW adalah “mengkultuskan Nabi sebagaimana orang-orang Nasrani” bagai mana kalo kita mengkultuskan Nabi SAW tidak seperti kultusnya Nasrani, dalam artian membenarkan semua perkataan, perbuatan & istiqror Nabi SAW secara mutlat tanpa harus bertanya “Kenapa harus begini? kenapa tidak begitu? dll” Apa2 yg berasal dr RasuluLloh SAW mutlak benar tampa harus tanya2 lagi. Trus apa acara yg di dalamnya dibacakan kisah/biografi agung dari Nabi SAW, budi pekerti & kepribadian Beliaw SAW yg luhur & Indah dan hal2 luhur nan indah lain yg berhubungan dgn Nabi SAW yg bermaksud utk mempertebal kecintaan kepada Nabi SAW (Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta) apakah acara tsb adalah dianggap kultus yg dlm artian men-tuhankan Nabi SAW sebagaimana orang-orang Nasrani?

    Hati2 Ukhti dlm menyebarkan faham2 seperti yg di “copy-paste”-kan Ukht di atas, Ukht harus telaah dulu. “Kok knapa orang lain pemahamannya beda dgn saya?” Jangan cpat2 memfonis!!! Secara sadar/tdk, ukht melarang kaum Muslimin yg berusaha mencintai & meneladani Nabi SAW dengan cara membacakan riwayat hidup Nabi SAW. Tapi karena kesempitan pandangan & kepicikan pemahaman dari Sekte yg membuat pernyataan yg di”copy-paste”-kan Ukht diatas, maka dengan cepat mereka memfonis kaum muslimin yg merayakan Maulid adalah menyerupai Nasrani dengan memahami dalil (“Barang siapa yang meniru tradisi suatu kaum maka dia adalah bagian dari kaum tersebut.”) secara sempit & Ficik. “Tasabuh” yg dimaksud di hadits tsb jangan diartikan sempit, karena kalo mau jujur (Kalo tasabuh dimaknai secara sempit seperti di komentar Ukht) maka, malah banyak “tasabuh” dr luar Islam yg ditiru oleh sekte yg ukhti ikuti tsb seperti tasabuh dalam pemerintahan, pemahaman Aqidah, tasabuh dalam berpakaian, tasabuh dalam makanan dll, padahal dalam Islam sendiri punya aturan dalam hal pemerintahan, berpakaian, makanan dll. Untuk lebih jelasnya dalam bab Tasabuh, silahkan Ukhti lihat/searching di blog/web tempat ukht meng-”copy-paste” masalah Ashabul wurud hadits tentang Shaum 10 Muharam

    Sementara itu saja yg dapat kami sampaikan, dikarenakan hari sudah mulai gelap. Mudah2an bisa dijadikan bahan renungan bg kita semua. Mohon maaf bila ada kata yg salah.
    Allohumma Sholli ‘ala sayyidinaa Muhammad, wa ‘alaa Aalihi wa sohbihii wa sallim….!

    NB. Mrs Novi ngga usah repot2 bersambung copy-paste artikel2 semacam itu, karena kami sdh tau sambungannya & di Hardisk kami juga ada & juga sudah banyak sekali artikel2, mp3, video mengenai faham2 yg serupa dgn yg di “copy-paste”-kan Ukht. Mungkin data yg dikeluarkan Sekte yg Ukht ikuti sudah banyak saya koleksi bahkan mungkin lbih kumplit drpd yg ukht punya… :)

  12. abi Berkata:

    ass.wr.wb saya cuma komentar tentang kritisnya ikhwan2 masalah maulid nabi yg para habib juga mngeluarkan pernyataan tntang bid’ahnya perayaan itu(arrahmah.com),terlepas dr itu knapa yg lebih pnting malah tdk di bahas pdahal slama ini qta hiidup di sistem keKAFIRAN yaitu DEMOKRASI dan ini mslah tauhid

  13. Asy-Syifa Berkata:

    wa ‘alaikum slm Wr. Wb.

    Permasalahan Maulid Nabi SAW yg di-ikhtilaf-kan mendorong kami utk memposting artikel sederhana di atas. Terlepas dari perbedaan pendapat Ummat, tujuan dari posting tsb hanya ingin mempertegas bagi kami & Ikhwan2 yg suka “merayakan Maulid Nabi SAW” supaya dalam menjalankan aktifitas Maulid, kami tdk ragu2 lagi karena Maulid Nabi SAW yg di dalamnya terdapat nilai2 yg tdk bertentangan dgn Syariar Islam & utk lebih mengenal sosok pembawa Syariat (Nabi SAW)adalah suatu event yg sangat penting dan ada dalilnya yg jelas.

    Di dalam artikel ini pula kami tidak menyalahkan ataupun menyesatkan orang yg tidak merayakan Maulid Nabi SAW. Justru malah pihak2/aliran baru yg tdk menyetujui adanya peringatan Maulid Nabi SAW dan menganggap/memfonis amalan ini merupakan kesesatan, fin-nar dan kata2 lainnya yg pedih & menyakitkan hati.

    Mereka(yg kontra Maulid) mengeluarkan dalil2 Qur’an & Hadits yg kurang tepat pada tempatnya(salah alamat) sehingga mengakibatkan sebagian dari kami & Ikhwan2 yg suka “merayakan Maulid Nabi SAW” menjadi bimbang & Ragu. Terkadang mereka yg kontra (dgn ketidak jujurannya), mengatas-namakan Ulama Salaf, Mufti, Habaib dll utk memaksakan/mendokrin umat supaya mengikuti pemahamannya, padahal tokoh2 umat yg Masyhur tsb tdk pernah mengeluarkan pernyataan demikian, atau mereka yg kontra memotong pernyataan tokoh2 umat yg Masyhur tsb, menukil secara tdk utuh, sehingga seolah-olah tokoh2 umat yg Masyhur tsb mendukung sektenya. Naudzubillah, ini bukan asal ketik Pak, tp sdh banyak bukti kekotoran & ketidak jujuran mereka(pihak yg kontra dgn Maulid) yg melakukan hal2 tsb(memotong/menukil scr tdk utuh dari Tokoh Ulama Masyhur))

    Tp AlhamduliLlah dengan adanya artikel2 semacam di atas, juga artikel2 lain yg berisikan tentang dalil2 amalan yg sudah menjadi kebiasaan dari salafus-soleh yg jaman sekarang di tentang habis-habisan oleh golongan/sekte baru, setidaknya ada sedikit ketenangan dlm menjalankan amalan2 tsb karena ternyata ada dalilnya yg soheh dari rowi yg tsiqoh.

    Jaman sekarang yg penuh dgn fitnah terutama fitnah Aqidah, sangat jarang suatu perkumpulan yg di dalamnya diperkenalkan pribadi & sunnah2 Nabi SAW. Kalau pun ada sangat jarang & pesertanya pun minim, jarang mencapai ratusan bahkan ribuan. Even Maulid yg menghadirinya kadang sampai ribuan lebih merupakan suatu even utk menanamkan/memperkenalkan nilai2 Islam & sunnah2 Nabi SAW.

    Adapun komentar dari Bpk Abi yg menyatakan bahwa kurang penting utk membahas/mengkritisi ikhtilaf Maulid Nabi, tp di alinea tengah mengapa Bpk Abi sendiri kurang konsisten dgn pernyataannya, justru mengkritisi persoalan Maulid Nabi SAW dgn pernyataan

    “maulid nabi yg para habib juga mngeluarkan pernyataan tntang bid’ahnya perayaan itu”

    tanpa disertai pembuktian, para Habib yg mana? dalilnya apa? dst?

    Maaf bukan berarti kami tdk memperdulikan masalah sistem pemerintahan & kehidupan bernegara yg sedang berjalan di negri Indonesia ini yg menurut Bp Abi adalah sistem keKAFIRAN. Masalah yg ada jaman sekarang ini yg tdk sesuai dgn Syari’at Islam sangat banyak & kompleks sehingga tdk bisa dirubah dengan waktu yg singkat. Semuanya hrs berproses sesuai dgn metode dakwah Nabi SAW. Berproses bukan berarti lamban.

    Masing2 individu/organisasi mempunyai peran masing2. Peran yg berbeda-beda tsb harusnya disinergikan, bukannya saling menjatuhkan, menyesatkn, menjelek-jelekan. Kapan umat bisa bersatu membangun tatanan kehidupan yg Islami dari segala aspek? Sedangkan masing2 individu/organisasi yg mempunyai peran yg berbeda2 tsb malah sibuk saling mencaci? Sedangkan di luar, pihak yg membenci(musuh) Islam sangat senang dan menikmati dgn perpecahan umat Islam….! Bagaimana kita mau membenahi negara Indonesi supaya sesuai dengan syariat Islam, terbentu Khilapah dst, sedangkan meng-akur-kan atupun mengatur tatanan kehidupan yg bersekala kecil saja dulu, seperti di keluarga & lingkungan tetangga sendiri, malah kita sendiri suka saling mencaci, membenci dll??????

    Semoga ini bisa dijadikan renungan bagi kita. Akhirnya kami mohon maaf bila ada kata2 yg kurang tepat & tidak sesuai dengan pendapat para pengunjung atau bahkan tdk berkenan di hati, sekali lagi saya mohon beribu2 maaf. Tdk ada sedikitpun niat utk menyakiti ummat Sayyiduna Muhammad SAW, menyakiti umat Nabi SAW berarti menyakiti Beliau yg Roufur-Rohim, NaudzubiLlahi min dzalik.

    Wassalamu ‘alaikum Wr.Wb.

  14. aziz Berkata:

    kalau antum mengaku cinta kepada Nabi Muhammad,..
    hidupkan sunnah-sunnahnya
    tinggalkan bid’ah,…
    satukan umat islam di atas sunnah dengan pemahamn salafus sholih

    • Asy-Syifa Berkata:

      Setuju P Aziz…. Hidup diatas Sunnah RasuluLloh SAW dgn pemahaman Salafus Shalih “yg asli bukan yg hanya mengaku-ngaku salafus saleh” karenga jaman sekarang banyak “minyak babi” yg bermerek “Unta padang pasir”. Semoga kita tdk terkelabui & tertipu oleh pemahaman2 baru seperti jaman sekarang ini. Aamiiin

  15. odiaswanda Berkata:

    Dan barangsiapa menentang Rasul … Kami masukkan ia ke dalam Jahannam… (QS 4:115)
    Diperintahkan oleh Rasul “Selisihah kaum musyrikin”. Apa antum berani menentang Rasul?
    Jangan pernah mau mengikuti bid’ah kaum musyirikin.
    Dilarang memangkas lihyah (Imamat 19:27), malah dicukur habis. Alasannya yg dilarang hanya memangkas sedikit, kalau semuanya maka boleh. ANEH.

    Dilarang berkumpul merayakan yang tidak diperintahkan (Hosea 9:1, Yehezkiel 44:24)
    Maka tanyakan kepada yg suka berkumpul merayakan maulid Nabi-Nya, apakah ada perintah berkumpul merayakan maulid Nabi Isa alahi salam?

    Taurat, Zabur, dan Injil adalah Kitabullah juga. Ambil yang tidak bertentangan / mansukh dgn Al-Quran wa Sunnah sebagai penguat dalil.

    Berkumpul merayakan kelahiran bagi kaum muslimin ada sunnah (tuntunan) dari Rasul yakni Aqiqah ketika bayi usia 7 hari.

    Tdk ada sunnah (tuntunan) berkumpul merayakan yang telah wafat. Yang ada ialah bersholawat di manapun berada kecuali di kuburan, perbanyak sholawat di hari Jumat.

    Jangan menyanyikan sholawat karena tidak ada sunnah-nya.

    • Jang Dadang Berkata:

      Mf Syeh Osdi…! Kami melihat antum menggunakan dalil tsb utk orang musrik/kafirin bukan utk mendebat kaum muslimin yg ngga sependapat ama antum & Syeh2 antum, coba antum buka lg Tafsir & Asbabun-Nuzul ayat yg antum terjemahkn (QS 4:115)? Malah kok antum pake dalil dr kitab Injil, apa ngga cukup Al-Qur’an & Sunnah Nabi SAW? Taurat, Zabur & Injil kitab samawi yg diturunkan Alloh SWT kepada umat2 tertentu & kita wajib mengimaninya.

      Dalil2 di artikel ini menurut kami sudah sangat jelas (bagi orang yg dilapangkan dadanya), bahwa tdk ada cela/keburukan dlm “Peringatan Maulid Nabi SAW”. Alangkah baiknya bila qta menyikapi hal2 “khilafiyah” yg kurang sejalan dengan pemahaman qta dengan semangat mencari kebenaran bukan pembenaran pendapat sendiri, mengetengahkan dalil2 yg jelas & sesuai pd tempatnya, secara menyeluruh tdk parsial dgn pemahaman yg tdk picik. Coba “tabayyun” dgn dalil2 dari pihak “lawan” qta, hilangkan taqlid buta, bersihkan hati ikhlas hanya mencari rido-nya, akui kalo memang kita yg salah…!

      Mohon maaf bila ada kata2 yg kurang berkenan di hati antum!

  16. Muhammad Hasan Sadzili Berkata:

    Assalamualaikum wr.wb.
    Mohon maaf pak odiaswanda
    Tolong anda renungkan apa yang dibicarakan di peringatan maulid itu. Semua jenis maulid baik yang di sumedang, bandung dan jakarta dan daerah lainnya maulid itu intinya mengaji membahas ilmu2 dinniyah, menceritakan nabi kita sendiri, membaca riwayatnya yang teragung dan termulya sepanjang zaman, yang menjadi segala sesuatu di dunia ini ada(intina mah ngaji ngaji keneh we!!!).Hikmah yg didapat akan menambah kecintaan kita pada Nabi kita yg teragung ini. Sangat sedikit kemungkinan orang yg jarang menyebut2 dan menceritakan riwayat hidup seseorang apalagi sampai melarang menceritakan riwayat hidupnya akan mudah mencintainya.Bukankah mencintai Nabi kita ini adalah salah satu syarat keimanan kita!!! Kami semua yg bermaulid nabi membuat sarana itu sebagai cara untuk menumbuhkan rasa cinta. Dan tolong direnungkan ” Tidak semua bidah itu sesat tetapi ada bidah yang baik juga” walaupun itu tidak ada pada zaman nabi tapi jika membawa kemaslahatn muslimin itu dibolehkan oleh para ulama sedunia. Contoh seperti Pengeras suara di mesjid bukankah itu bentuk bidah tapi kalo dilihat dari fungsinya maka hal itu diperbolehkan. Terlebih lagi dengan perayaan maulid nabi ini yang bisa menyelamatkan kita dunia dan akhirat yang membuka keridhoan Alloh dan Rosulnya.”Alloh SWT sangat mencintai Nabi kita ini, lalu bagaimana kita yang senantiasa disibukan dengan dunia sehingga sering terlupakan akan Nabinya sendiri,ditambah-tambah banyak orang yang salah arti sampai berani melarang melaksanakan Perayaan Maulid Nabi.” Semoga Alloh senantiasa tidak henti2nya memberikan taufik dan hidayahnya agar mendapat pemahan ilmu agama yang benar dengan periwayat ilmu yang sohih. Amin Ya Rabbal Alamin…..!!!!!
    Mohon maaf yang sebesar2nya kirannya jikalo menyinggung perasaan.
    Wassalamualaikum wr.wb.

  17. odiaswanda Berkata:

    Larangan menentang Rasul adalah dalil umum, cukup ditafsirkan dengan ayat “taatilah Allah dan Rasul-Nya”. Tidak taat berarti menentang atau menyimpang.

    Rasul Allah tidak hanya satu.
    Saya tulis boleh mengambil dalil dari Rasul Allah selain Muhammad shollallahu alaihi wa salam hanya sebagai penguat dalil, misal: beliau memerintahkan memelihara lihyah karena di suhuf Musa alaihi salam (Taurat) ada larangan memangkas lihyah. Beliau tidak memerintahkan berkumpul merayakan apapun yang tidak ada wahyu dari Allah karena di Taurat ada larangan merayakan yang tidak ada wahyu dari Tuhan yang ditaati oleh nabi Musa.

    Ya, cukup dari Al-Quran wa Sunnah jika antum taat memotong kumis dan memelihara janggut, dan pada diri Rasulullah terdapat suri teladan yang baik (QS 33:21), yakni ia taat pada Allah mengikuti suhuf Ibrahim wa Musa serta wahyu Allah khusus untuk beliau.

    Shaum 10 Muharam adalah dalil syariat dari nabi Musa yang beliau ambil. Yakinilah bahwa shaum dan aqiqah sangat berbeda dengan berkumpul merayakan kelahiran Rasul yang telah wafat.
    Yang sunnah adalah bersholawatlah walau ia telah wafat.

    Beberapa ayat di Al-Quran menunjukkan ahli Kitab telah menyimpang, tetapi ada juga yang taat.

    Rasulullah memerintahkan memelihara lihyah adalah bagian dari taat pada larangan Allah yang telah dilanggar oleh ahli Kitab (yang wajib masuk Islam).

    Kenapa antum malah memerintahkan kaum muslimin untuk menyerupai ahli Kitab yang telah menyimpang?
    ANEH.
    Mencukur lihyah dan Merayakan Natal adalah penyimpangan dari ahli Kitab, dan sudah ada sebelum Nabi Muhammad shollallahu alaihi wa salam diutus menjadi Rasulullah.
    Apa ada beliau ikut menyimpang?

    Mau menentang Rasul? Nabi Ibrahim dan Nabi Musa juga Rasul Allah.
    Yang jadi pertanyaan di QS 87:16-19 adalah Suhuf Ibrahim namanya apa jika Taurat adalah nama suhuf Musa?

    Sholat fardhu berjamaah adalah diwajibkan di waktu pagi petang petang di tempat ibadah kaum nabi Musa yang taat. Cari sendiri ayatnya di Al-Quran.
    “dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al-Quran ini berbagai perumpamaan. Dan antum adalah makhluk yang paling banyak membantah” (QS 18:54)
    Kata kuncinya adalah perumpamaan kaum yang tidak taat adalah menyerupai iblis yang tidak taat (menentang).

    Apakah antum taat pada Allah dengan berkumpul merayakan yang tidak diperintahkan Allah melalui Rasul-Nya atau taat pada Iblis dan pasukannya?

    Tidak ada khilafiyah tentang larangan tidak taat dan menentang Allah dan Rasul-Nya.

    Qunut Shubuh, jari digerakkan saat tasyahud, dsb, itu khilafiyah yang wajar karena haditsnya multi tafsir.

    Tapi tidak mungkin hadits Qunut Shubuh jadi dalil maulid nabi, ya.

    Nawaitu shauma ghadin adalah contoh kaum muslim yang tidak paham bahasa Arab. Tanya : siapa yang mensyariatkan Nawaitu untuk shaum Ramadhan, tapi lupa mensyariatkan nawaitu untuk shaum 10 muharam, senin- kamis, shaum nabi daud?

    Dan antum adalah makhluk yang paling banyak membantah.

    Ga punya malu, berbuatlah semaumu.

    Shaum jadi dalil berkumpul merayakan maulid nabi yang telah wafat?

    Perayaan Natal (maulid nabi Isa) sudah ada sebelum Rasulullah lahir kenapa tidak dijadikan dalil sekalian?

  18. Muhammad Hasan Sadzili Berkata:

    Assalamualaikum wr.wb.
    Bapak berdalil itu mungkin karna punya guru. Dan kami juga semua orang yang merayakan maulid Nabi yang agung juga mempunyai pegangan guru yang sanad keilmuannya sampai kepada Nabi kita sendiri. Silahkan Bapak pegang keyakinan tersebut. Kami juga akan memegang keyakinan kami sampai akhir hayat kami da akan kami pertanggung jawabkan keyakinan ini kepada Nabi kami kelak. Karena jelas kami melakasanakan perayaan maulid hanya semata mata untuk mencari ridho Alloh dan menambah kecintaan kami kepada Baginda kami Nabi Teragung Nabi Termulya Muhammad SAW.Silahkan anda berkomentar apa. Tapi tetap perayaan maulid tidak akan pernah sirna dari muka bumi ini ilaa yaumil qiyamah!!!!
    Wassalamualaikum wr.wb.

  19. Jang Dadang Berkata:

    Wa 10x sanggahan antum kok lebih ngawur gituh Syeh, lbih ngga nyambung drpd yg awal??? ana ngga ngemasalain tentang jenggot, kumis dll, dn itu tdk dimasalahkan di artikel di atas. Kalo ngga bisa jwb pertanyaan2 ane y jangan berkelit dgn membuat tema lain. Kok jauh mnyimpang dr tema. Ach ngga nyambung euy…!

    Ana hanya ibadah dgn berdasar dalil Qur’an & Hadits yg difahami oleh salafus saleh bukan dr ente Syeh…! Ana hanya mengomentari masalah maulid nabi, emang maulid nabi itu natalan?

    Kalo bener ente punya dali yg bisa mematahkan dalil2 di atas ya kemukaan dalil tsb secara ilmiah bukan dgn uring-uringan kaya gitu(istilah sunda mah kebakaran jenggot)…

    Emang ada dalilnya kalo yg merayakan maulid, pembacaan kisah nabi yg mulia adalah penentangan terhadap Nabi?

    Cape ah ngeladeni orang2 kaya ente…!

  20. Asy-Syifa Berkata:

    Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

    Para pengunjung yg terhormat,
    Kami mengucapkan banyak terima kasih atas komentar-komentar saudara. Alangkah lebih baik kita bisa menaha diri dari saling menyalahkan, menyesatkan bahkan “TAKFIR” naudzubillah!

    Kalau ada pendapat yg lain yg tidak sesuai dengan pendapat kita, alangkah baiknya desertai dgn dalil-dalil yg jelas bukan dgn saling menghujat.

    Syukron

Tinggalkan Balasan